PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun membakar sampah sebagai upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.
Sekretaris Daerah Kalteng, Linae Victoria Aden, mengatakan wilayah Kalteng yang didominasi lahan gambut sangat rentan mengalami karhutla ketika musim kemarau.
Imbauan tersebut disampaikannya saat memimpin Upacara Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 di Halaman Kantor Gubernur Kalteng, Palangka Raya, Kamis, 23 Juli 2026.
“Saya mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak membuka lahan maupun membakar sampah di lingkungan sekitar sebagai upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.
Linae juga mengajak masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap aman dari ancaman karhutla selama musim kemarau.
“Mari bersama menjaga Kalteng tetap aman dan lestari meski sudah memasuki musim kemarau,” katanya.
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalteng mencatat sebanyak 2.844 titik panas (hotspot) dan 563 kejadian karhutla sejak 1 Januari hingga 19 Juli 2026.
Kepala Pelaksana BPB-PK Kalteng, Ahmad Toyib, mengatakan berdasarkan data Pusdalops PB Kalteng yang dihimpun dari laporan pemerintah kabupaten dan kota, luas lahan terbakar secara akumulatif mencapai 852,58 hektare.
Namun, hasil verifikasi melalui citra satelit dan ground check Manggala Agni menunjukkan luas wilayah yang terdampak kebakaran telah mencapai 3.069,52 hektare.
“Total luasan wilayah yang terdampak kebakaran sebenarnya telah menembus 3.069,52 hektare,” ujar Toyib dalam keterangan tertulis, Selasa, 21 Juli 2026.
Menurut Toyib, meningkatnya kejadian karhutla dipicu kondisi cuaca yang semakin kering di sebagian besar wilayah Kalteng.
Meski penanganan terus diperkuat dengan dukungan 94 personel gabungan dan empat unit helikopter water bombing, kondisi geografis serta cepatnya rambatan api masih menjadi tantangan utama.
Ia menyebut Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 401 titik, disusul Lamandau 374 titik, Kapuas 365 titik, dan Katingan 356 titik.
“Kami melihat pergerakan api sangat cepat akibat vegetasi lahan yang mulai mengering. Seluruh satgas, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, diinstruksikan mempertahankan status siaga penuh,” katanya.
Dari sisi penanganan, Kota Palangka Raya mencatat jumlah kejadian karhutla terbanyak, yakni 199 kasus. Sementara Kabupaten Kotawaringin Timur menangani 96 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 188 hektare.
Adapun luasan kebakaran terbesar tercatat di Kabupaten Sukamara, yakni 138,2 hektare dari 237 titik panas yang terpantau.
“Di tengah kepungan titik api tersebut, kami memastikan dampak terhadap kesehatan masyarakat hingga saat ini masih berada dalam batas aman,” pungkas Toyib.
(Sya'ban)












