SAMPIT – Dinas Sosial Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menerapkan mekanisme jemput bola dalam menjaring peserta didik Sekolah Rakyat di Kotim. Berbeda dengan sekolah pada umumnya, program ini tidak membuka pendaftaran untuk masyarakat luas, melainkan menyasar langsung keluarga yang masuk dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Kepala Dinas Sosial Kotim, Hawianan, menjelaskan pola tersebut dipilih karena Sekolah Rakyat merupakan program afirmasi pemerintah yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Pendataan dilakukan terhadap keluarga pada desil satu hingga desil lima agar bantuan pendidikan tepat sasaran,” kata Hawinaan saat kegiatan Pra MPLS di Sekolah Rakyat Kotim, Kamis 30 Juli 2026.
Ia menyampaikan, pendekatan tersebut juga untuk menghindari bergesernya sasaran program. Jika pendaftaran dibuka secara umum, dikhawatirkan masyarakat di luar kelompok prioritas ikut mendaftar, sementara kemampuan pemerintah dalam melakukan verifikasi masih terbatas.
Menurut Hawianan, proses rekrutmen tidak selalu berjalan mudah. Salah satu tantangan terbesar ialah membangun kepercayaan orang tua, terutama terhadap konsep sekolah berasrama yang masih belum banyak dipahami masyarakat.
“Karena itu, kami Dinas Sosial terus melakukan sosialisasi dan memberikan penjelasan mengenai sistem pendidikan yang diterapkan di Sekolah Rakyat,” ungkapnya.
Meski menghadapi keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi, Dinas Sosial tetap berupaya menjangkau seluruh wilayah Kotim dengan dukungan para pendamping sosial di setiap kecamatan. Mereka berperan membantu pendataan sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai program tersebut.
Hasilnya, pada Tahun Ajaran 2026/2027, Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kotim berhasil menerima 270 peserta didik baru, terdiri dari 50 siswa jenjang SD, 117 siswa SMP, dan 103 siswa SMA.
Hawianan menilai capaian tersebut merupakan hasil sinergi antara Kementerian Sosial, Pemerintah Kabupaten Kotim, perangkat daerah, serta para pendamping sosial yang aktif melakukan pendampingan di lapangan.
Ia menambahkan, pelaksanaan Open House dan Pra-Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (Pra-MPLS) menjadi sarana bagi orang tua dan calon peserta didik untuk mengenal lingkungan sekolah, termasuk sistem pendidikan dan kehidupan di asrama.
Pemerintah berharap pemahaman masyarakat terhadap Sekolah Rakyat terus meningkat sehingga semakin banyak anak dari keluarga kurang mampu memperoleh akses pendidikan yang layak dan memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan kualitas hidupnya. (Nardi)












