PALANGKA RAYA – Hujan deras yang mengguyur Kota Palangka Raya pada Rabu 19/
Februari 2025 siang tidak menyurutkan semangat ratusan mahasiswa untuk turun ke jalan menyuarakan aspirasi mereka. Dengan penuh semangat, mereka menggelar aksi di depan Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), meskipun basah kuyup oleh guyuran hujan.
Di tengah situasi yang semakin memanas, Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong dan Wakil Ketua II DPRD Kalteng Muhammad Ansyari menunjukkan respons luar biasa. Keduanya memilih turun langsung menghadapi massa, berdiri di bawah hujan bersama para demonstran, dan mendengarkan setiap tuntutan yang disampaikan.
Para mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Palangka Raya (UPR), Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya, Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Palangka Raya, serta sejumlah organisasi kepemudaan, berkumpul di titik awal aksi di depan TVRI Kalimantan Tengah, Jalan Yos Sudarso, sebelum bergerak menuju Gedung DPRD Kalteng di Jalan Ahmad Yani.
Dengan semangat membara, mereka berjalan kaki sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan seperti “Buruh Tani” dan “Mars Mahasiswa”, meneriakkan seruan perlawanan terhadap kebijakan pemerintah pusat yang mereka anggap merugikan dunia pendidikan.
Sesampainya di depan Gedung DPRD Kalteng pada pukul 13.38 WIB, para mahasiswa langsung menggelar orasi secara bergantian.
Tuntutan utama mereka adalah penolakan terhadap kebijakan efisiensi anggaran yang diberlakukan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Kebijakan ini, menurut mereka, menyebabkan pemotongan anggaran pendidikan yang dialihkan untuk program prioritas nasional, salah satunya Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Anggaran pendidikan dipotong demi makan bergizi gratis. Kita tidak butuh makan, kita butuh pendidikan!” teriak salah satu orator dari atas mobil komando, disambut tepuk tangan dan sorakan setuju dari peserta aksi.
Meski hujan semakin deras, mahasiswa tetap bertahan. Mereka mengibarkan spanduk dan poster bertuliskan berbagai tuntutan, mengkritik kebijakan yang mereka anggap tidak berpihak kepada sektor pendidikan.
Tak lama setelah orasi berlangsung, Ketua DPRD Kalteng Arton S. Dohong dan Wakil Ketua II DPRD Kalteng Muhammad Ansyari keluar dari gedung dan langsung menemui para demonstran.
Di hadapan massa aksi, mereka tidak mengenakan pelindung apa pun dan menyatu dengan kerumunan. Tanpa jas hujan, tubuh mereka mulai basah oleh hujan, namun tetap berdiri tegak, mendengarkan dengan saksama setiap keluhan yang disampaikan para demonstran.
Dalam tanggapannya, Arton S. Dohong menyatakan bahwa pihaknya memahami keresahan mahasiswa dan akan berupaya menyampaikan aspirasi mereka kepada pemerintah pusat.
“Pada dasarnya wajar saja tuntutan mereka (mahasiswa). Itu nanti akan kita upayakan untuk disampaikan ke pemerintah pusat melalui jalur pemerintah daerah,” ujar Arton usai menghadapi mahasiswa dengan kondisi basah.
Namun, mahasiswa tidak hanya ingin didengar. Mereka menuntut komitmen konkret dari DPRD Kalteng agar tuntutan tersebut segera diteruskan dan ditindaklanjuti. Sebagai bentuk tekanan, mahasiswa memberikan tenggat waktu 3×24 jam kepada DPRD Kalteng untuk memastikan tuntutan mereka sampai ke pemerintah pusat.
Menanggapi hal ini, Arton menjelaskan bahwa ada prosedur yang harus dilalui sebelum aspirasi tersebut bisa diteruskan.
“Tiga hari ya, dari hari Senin (24 Februari 2025), karena proses kita kan harus diolah dulu oleh Sekretariat Dewan,” ujarnya.
Mahasiswa merespons pernyataan tersebut dengan tetap menegaskan bahwa mereka akan terus mengawal kebijakan ini hingga ada kejelasan dari pemerintah.
Hingga pukul 15.00 WIB, para mahasiswa masih terus berorasi, menyuarakan aspirasi mereka dengan lantang. Di tengah aksi, mereka juga menyetel lagu kampanye Prabowo-Gibran, “Oke Gas, Oke Gas,” yang menggema di antara kerumunan.
Tak hanya itu, aksi bakar ban turut mewarnai demonstrasi, sementara barisan polisi tetap berdiri tegak di hadapan massa, menjaga ketertiban dengan penuh kewaspadaan.
Aksi ini berlangsung hampir dua jam, berakhir pada pukul 15.30 WIB. Mahasiswa membubarkan diri secara tertib, namun sebelum meninggalkan lokasi, mereka menegaskan bahwa jika tuntutan mereka tidak mendapat respons yang memadai, mereka akan kembali dengan jumlah massa yang lebih besar.
Di sisi lain, aparat kepolisian yang sejak awal berjaga memastikan situasi tetap kondusif hingga aksi benar-benar selesai. Mereka tetap siaga, mengawal jalannya demonstrasi agar berlangsung tertib tanpa insiden yang tidak diinginkan.
Meski demonstrasi telah usai, hujan yang mengguyur Kota Palangka Raya siang itu seolah menjadi saksi keteguhan hati para mahasiswa dalam memperjuangkan hak mereka. Di bawah rintik hujan, mereka berdiri kokoh, menyampaikan suara demi pendidikan yang lebih baik.
Bagi para mahasiswa, perjuangan ini belum berakhir. Mereka berharap suara mereka tidak hanya didengar, tetapi benar-benar diperjuangkan oleh para pemangku kebijakan, agar pendidikan tetap menjadi prioritas utama bagi masa depan bangsa.
(Sya'ban)












