SAMPIT – Alih-alih menjadi bulan penuh berkah, Ramadan 1446 Hijriah di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) justru diwarnai maraknya aksi pencurian. Polres Kotim mencatat, pencurian menjadi kejahatan paling dominan sepanjang Ramadan tahun ini.
Kapolres Kotim, AKBP Resky Maulana Zulkarnain mengungkapkan bahwa dalam beberapa minggu terakhir, frekuensi kasus pencurian mengalami lonjakan signifikan.
Ironisnya, meski makin banyak yang menjadi korban, tidak semua warga memilih jalur hukum. Banyak korban justru lebih memilih memviralkan aksi pencuri melalui media sosial ketimbang melapor ke pihak kepolisian.
“Memang beberapa minggu ini, khususnya di bulan Ramadan banyak pencurian. Tapi, warga lebih banyak melapor ke medsos ketimbang ke pihak kepolisian,” kata Resky, Selasa 18 Maret 2025.
Hal itu, membuat pihak kepolisian sulit untuk bertindak apalagi sampai mengamankan pelaku pencurian.
“Kalau tidak melapor ke polisi bagaimana kami mengamankan si pelaku. Karena laporan warga salah satu dasar kami mengamankan pelaku dan kami tidak menangkap orang dengan sembarangan,” ucapnya.
Resky mengungkapkan kalau sejauh ini baru satu orang saja yang melaporkan kejadian pencurian.
“Baru satu laporan yang kami terima, kalau tidak salah itu kasus curanmor,” ungkapnya.
Meski demikian pihaknya tetap berusaha melakukan antisipasi dengan cara yang lain yaitu melakukan patroli rutin pada saat jam rawan terjadinya tindak kejahatan pencurian agar situasi kamtibmas selama bulan suci Ramadan tetap terjaga.
“Walau tidak ada laporan kami tetap selidiki dan selain itu kami juga melakukan patroli rutin di jam rawan agar dapat menjaga situasi kamtibmas,” bebernya.
(oktavianto)












