PALANGKA RAYA – Beragam makanan dan minuman khas selalu hadir saat Hari Raya Idulfitri, mulai dari yang manis, pedas, hingga berlemak.
Meski demikian, masyarakat diimbau agar tidak berlebihan dalam mengonsumsinya demi menjaga kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Suyuti Syamsul, mengingatkan bahwa makanan dan minuman yang banyak dikonsumsi saat Lebaran, terutama yang tinggi gula dan lemak, dapat berdampak pada kesehatan jika tidak dikontrol.
“Saat hari raya biasanya makanan berlimpah, termasuk minuman manis dan kue kering. Keduanya mengandung banyak gula dengan indeks glikemik tinggi. Begitu dikonsumsi, kadar gula darah bisa melonjak dengan cepat,” ujar Suyuti saat dihubungi Berita Sampit melalui WhatsApp, Selasa, 1 April 2025.
Beberapa makanan khas Lebaran yang tinggi gula dan lemak antara lain kue kering seperti nastar, kastengel, putri salju, dan kue lapis.
Sementara itu, hidangan berat seperti opor ayam, rendang, gulai, dan lontong sayur juga kaya akan santan serta lemak.
Minuman manis seperti es sirup, es buah, soda, serta minuman bersantan seperti cendol dan es teler juga sering dikonsumsi.
Suyuti menjelaskan bahwa dalam jangka panjang, kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula tanpa kontrol dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, gangguan pembuluh darah, hingga masalah ginjal.
Selain itu, pola makan berlebihan menyebabkan asupan kalori yang tinggi. Jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik, kelebihan kalori akan disimpan dalam tubuh sebagai lemak dan berujung pada obesitas.
“Oleh karena itu, penting untuk mengontrol konsumsi makanan saat Lebaran, menghindari makanan terlalu manis atau berlemak dalam jumlah banyak, serta tetap menjaga aktivitas fisik agar tubuh tetap sehat,” imbau Suyuti.
Ia juga mengajak masyarakat lebih bijak dalam menikmati hidangan Lebaran agar tetap sehat dan bugar setelah perayaan Idulfitri.
Kesadaran akan pola makan yang seimbang sangat penting guna menjaga kesehatan tubuh pasca-Lebaran.
(Sya'ban)












