KUALA KAPUAS – Ketimpangan infrastruktur kembali menjadi sorotan setelah warga Desa Sei Jangkit, Kecamatan Bataguh, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, menyuarakan keluh kesah mereka melalui media sosial. Jalan utama desa yang menghubungkan RT 02 hingga RT 10 rusak berat dan berlumpur, bahkan dalam kondisi tertentu hanya bisa dilalui dengan perahu.
Keluhan warga yang viral di Facebook pada Senin 7 April 2025 tersebut, mengungkapkan betapa parahnya akses jalan yang seharusnya menjadi urat nadi desa. Anak-anak sekolah harus berjuang menembus lumpur, dan warga sakit terpaksa menumpang perahu ke puskesmas terdekat karena kendaraan roda dua maupun empat tak mampu melintas.
“Sudah puluhan tahun kami hadapi ini. Jalan hanya jadi nama, karena yang kami lewati hanyalah kubangan panjang. Bahkan untuk sekadar berobat pun, harus menempuh jalur sungai,” tulis seorang warga dalam unggahannya.
Menurut warga, jalan tersebut merupakan akses utama menuju Kota Kapuas. Namun, kerusakan yang terus diabaikan membuat waktu tempuh menjadi jauh lebih lama dan penuh risiko. Inisiatif swadaya kerap dilakukan, dengan cara meminta sumbangan dari warga untuk menutup lubang jalan dengan material seadanya.
Harapan besar kini tertuju kepada Pj Bupati Kapuas, Darliansjah, dan Kepala Dinas PUPR, agar segera turun tangan memperbaiki jalan tersebut. Mereka juga menolak anggapan bahwa keterlambatan perbaikan disebabkan oleh politik desa. “Kalau pun kami tidak mendukung calon tertentu di pilkades, bukan berarti kami harus dianaktirikan,” tegas warga dalam unggahan itu.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas PUPR Kapuas, Yan Hendri Ale, menyatakan pihaknya akan menurunkan tim bersama Bidang Bina Marga untuk meninjau kondisi jalan. Ia menyebutkan, usulan perbaikan telah masuk dalam Musrenbang pada 17 Januari 2025 dan kemungkinan besar akan diproses dalam alokasi anggaran tahun 2025 atau 2026. (ds)












