SAMPIT – Wacana pengembangan wisata edukatif berbasis konservasi buaya di Pulau Lepeh dan Hanibung kembali menjadi sorotan, usai insiden tragis yang menimpa Sani (40), warga Desa Babaung, Kecamatan Pulau Hanaut. Sani tewas diserang buaya saat mandi di Sungai Mentaya, Jumat 4 April 2025, dan jenazahnya ditemukan sehari kemudian sejauh 1,2 kilometer dari lokasi kejadian.
Kejadian ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya pengelolaan habitat satwa liar, sekaligus momentum untuk mendorong realisasi kawasan wisata buaya yang sempat digagas, namun mandek karena belum mengantongi izin dari pemerintah pusat.
Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Halikinnor, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan menegaskan perlunya edukasi masyarakat serta langkah preventif yang lebih konkret.
“Banyak habitat buaya yang sudah rusak, sehingga mereka masuk ke area pemukiman karena mencari makan. Kalau mereka lapar, apa pun yang bergerak bisa dianggap mangsa,” ungkap Halikinnor, Rabu 9 April 2025.
Sebagai bagian dari upaya jangka panjang, Pemkab Kotim sudah lama merencanakan menjadikan Pulau Lepeh sebagai kawasan konservasi sekaligus wisata edukasi buaya.
Buaya yang ada di kawasan tersebut akan diberi makan secara rutin agar tidak lagi mengancam penduduk sekitar.
Namun, wacana tersebut masih terkendala persoalan perizinan yang merupakan kewenangan pemerintah pusat, sehingga langkah lebih lanjut masih menunggu keputusan dari Kementerian Pertahanan dan Kementerian Lingkungan Hidup.
“Sampai saat ini, izin dari pusat belum keluar. Kalau itu bisa kita kelola, tentu bisa membantu mengurangi serangan buaya ke warga,” jelasnya.
Tidak hanya Pulau Lepeh, Pulau Hanibung di Desa Camba, Kecamatan Kota Besi juga disiapkan sebagai taman satwa terpadu. Di sana akan menjadi tempat penampungan bagi satwa liar seperti orangutan dan buaya hasil evakuasi dari pemukiman warga.
Menurut Halikinnor, selama ini banyak orangutan yang diselamatkan dan langsung dikirim ke kawasan konservasi di luar daerah. Jika memiliki tempat sendiri di Kotim, proses rehabilitasi dan pelestarian bisa dilakukan lebih efektif, bahkan membuka peluang baru dalam pengembangan wisata berbasis lingkungan.
“Bayangkan jika ada rumah lanting yang disulap jadi penginapan atau hotel terapung di sekitar lokasi. Selain menjaga satwa, juga membuka peluang ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Guna merealisasikan gagasan tersebut, Pemkab berencana menggandeng sektor swasta lewat program CSR, termasuk mendukung penyediaan makanan alami bagi buaya seperti bibit ikan, serta pembangunan sarana pendukung wisata.
(Nardi)












