PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah (Kalteng) diminta lebih sigap menanggapi lonjakan harga komoditas pangan yang memicu inflasi.
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi bersama Kementerian Dalam Negeri, Senin, 14 April 2025, inflasi bulan ke bulan tercatat naik tajam mencapai 1,65 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut kenaikan harga tertinggi terjadi pada komoditas bawang merah, cabai rawit, dan daging ayam ras.
“Inflasi tertinggi tercatat pada bawang merah sebesar 24,07 persen dan cabai rawit 13,67 persen. Ini dipicu oleh naiknya permintaan selama Ramadan dan jelang Idulfitri,” kata Amalia dalam paparannya.
Inflasi tahunan pada Maret 2025 dibandingkan Maret 2024 sebesar 1,03 persen, lebih tinggi dari bulan sebelumnya, namun lebih rendah dibanding Maret tahun lalu.
Komoditas pangan disebut sebagai penyumbang utama, diperparah dengan berakhirnya diskon tarif listrik yang berlaku pada bulan sebelumnya.
Rapat koordinasi ini dipimpin oleh Sekjen Kemendagri Tomsi Tohir dan diikuti oleh sejumlah kepala daerah se-Indonesia secara virtual.
Dari Palangka Raya, Staf Ahli Gubernur Kalteng Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Yuas Elko, mengikuti rapat dari Ruang Rapat Bajakah, Kantor Gubernur.
Tomsi menekankan pentingnya pengendalian harga lewat gerakan tanam komoditas secara mandiri di setiap wilayah.
“Tidak perlu luas, yang penting bisa memenuhi kebutuhan kampungnya sendiri,” ujar Tomsi.
Sementara itu, Yuas Elko menyebut inflasi di Kalimantan Tengah masih tergolong terkendali.
Namun, ia mengingatkan agar instansi teknis tidak lengah menghadapi potensi gejolak harga selama momentum keagamaan dan musim panen yang belum stabil.
“Pengawasan terhadap harga pangan seperti cabai dan bawang perlu diperketat. Ini penting demi menjaga daya beli masyarakat,” ujarnya.
Dalam rakor tersebut, juga disampaikan sosialisasi mengenai rencana pendirian Sekolah Unggulan Garuda yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Stella Christie, menjelaskan sekolah ini akan dibangun di berbagai pelosok Tanah Air guna memperluas akses pendidikan sains dan teknologi berkualitas.
“Presiden ingin sekolah unggulan ini menjadi tempat lahirnya ilmuwan muda dari daerah. Akses harus merata, tidak hanya terpusat di kota besar,” kata Stella.
Program ini menjadi bagian dari Asta Cita yang menekankan penguatan SDM dan inklusi dalam pendidikan nasional.
Rapat diikuti pula oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Kalteng dan kepala OPD terkait.
Pemerintah daerah diminta tidak hanya mengandalkan data statistik, tetapi juga bergerak cepat dalam mengantisipasi gejolak pasar yang kerap muncul menjelang hari besar keagamaan.
(Sya'ban)












