SAMPIT – Ketua Komisi IV DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Mariani, menyayangkan pemangkasan anggaran infrastruktur yang dinilai berdampak besar terhadap pembangunan jalan, terutama proyek yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.
Ia mencontohkan dua proyek penting yang terkena dampak, yakni Jalan Lingkar Selatan Sampit dan Jalan Seranau-Cempaka. Alokasi anggaran untuk Jalan Lingkar Selatan kini hanya tersisa Rp3,5 miliar, sementara Seranau-Cempaka tinggal Rp5 miliar.
“Ini keputusan dari pusat, jadi kami tidak bisa berbuat banyak. Harapan kami, pemotongan seperti ini cukup sampai Desember 2025. Semoga tahun 2026 tidak terjadi lagi,” ujar Mariani, Jumat 18 April 2025.
Mariani mengatakan, informasi awal soal pemangkasan memang sudah mereka terima, namun baru diketahui belakangan bahwa proyek-proyek prioritas juga ikut terkena imbasnya.
Terkait proyek Jalan Seranau-Cempaka, Mariani belum bisa memastikan progres pelaksanaan yang bisa dicapai dengan anggaran yang tersisa.
“Mungkin hanya sebatas pemeliharaan atau peningkatan ringan dari kondisi yang ada. Kita lihat nanti bagaimana realisasinya, tergantung kemampuan keuangan daerah,” ucapnya.
Ia juga menyoroti pola pembangunan jalan yang selama ini dinilai belum menyentuh kebutuhan riil masyarakat. Menurutnya, masih ditemukan proyek jalan yang dibangun di lokasi yang kurang prioritas dan minim manfaat bagi warga.
“Banyak jalan dibangun tapi jarang dilalui masyarakat. Padahal yang seharusnya dikerjakan adalah yang benar-benar dibutuhkan dan berdampak langsung pada ekonomi warga,” tegasnya.
Mariani berharap ke depan pemerintah lebih bijak dalam menyusun rencana pembangunan, dengan fokus pada kebutuhan riil masyarakat serta memastikan sinergi yang kuat antara daerah dan pusat demi pembangunan yang efektif dan bermanfaat nyata.
“Kalau memang mendesak dan manfaatnya dirasakan langsung masyarakat, itu yang harus didahulukan. Kalau tidak berdampak, buat apa dibangun?” pungkasnya. (nardi)












