PALANGKA RAYA – Senin sore, 21 April 2025, halaman Istana Isen Mulang bukan lagi sekadar panggung seremoni. Di bawah langit senja dan sisa keringat usai jogging, Gubernur H. Agustiar Sabran menyulapnya menjadi forum terbuka untuk membahas masa depan Kalimantan Tengah.
Bermodal kaus olahraga dan semangat kebersamaan, Agustiar memimpin rapat koordinasi ringan bersama kepala OPD. Tak ada protokol kaku, hanya percakapan hangat yang membahas langkah-langkah strategis pembangunan daerah.
Sebelum rapat, Agustiar terlebih dulu berbaur dengan warga di jalur jogging Bundaran Besar Palangka Raya. Ia menyapa, berdialog dengan pedagang kaki lima, hingga berbincang santai dengan masyarakat yang tengah berolahraga.
Inilah wajah kepemimpinan yang berbeda—hangat, membumi, namun tetap visioner. Pendekatan yang mungkin tak lazim, tapi kian menjadi ciri khas Agustiar Sabran dalam memimpin Kalimantan Tengah.
Namun agenda tak berhenti di lintasan lari. Setibanya di rumah jabatan, ia langsung menggiring para kepala dinas berkumpul di halaman belakang Istana.
Mereka duduk tanpa podium, tanpa meja formal, tapi dengan catatan kerja di tangan masing-masing.
“Kita mulai dari yang sederhana dulu. Kedekatan ini penting, tapi kerja konkret jauh lebih penting,” ujar Agustiar membuka arahannya.
Rapat tersebut membahas delapan program prioritas Gubernur dan Wakil Gubernur dalam 100 hari kerja pertama mereka.
Di antaranya, penyelarasan dengan program nasional Presiden Prabowo Subianto, terutama program makan bergizi gratis dan percepatan penurunan stunting.
Peningkatan akses listrik dan internet di pedalaman, penguatan sistem deteksi dini kebakaran hutan dan banjir, serta perbaikan jalan Palangka Raya–Kuala Kurun juga masuk dalam agenda.
Tak kalah penting, Gubernur menekankan soal efisiensi anggaran, reformasi birokrasi, serta pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K).
“Jangan sampai program ini hanya jadi daftar. Ini harus jadi gerakan nyata di lapangan,” tegas Agustiar, yang terlihat masih mengenakan pakaian olahraga.
Hadir dalam forum itu antara lain Plt. Kepala Dinas Pendidikan Muhammad Reza Prabowo, Kepala Baperrinda Leonard S. Ampung, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Hj. Norhani, Kepala Dinas Kesehatan Suyuti Syamsul, serta Kepala Dinas lainnya.
Meski tanpa suasana formal, diskusi berjalan dinamis. Beberapa kepala dinas bahkan mencatat poin langsung di atas lutut dengan tangan yang masih basah oleh keringat.
Langkah Gubernur menggabungkan aktivitas fisik dan koordinasi birokrasi ini bukan tanpa alasan. Ia ingin membentuk kultur pemerintahan yang adaptif, ringan bergerak, namun tetap fokus pada hasil.
“Birokrasi kita harus bisa jogging juga: cepat, tangkas, dan tetap selaras arah,” ujarnya, disambut senyum para kepala dinas.
Di tengah perubahan cuaca dan dinamika sosial-politik, Agustiar tampaknya sedang membangun narasi baru tentang kepemimpinan: dari istana, turun ke jalan, lalu kembali ke istana untuk kerja. Tapi kali ini, dengan kaus olahraga dan semangat gotong royong.
(Sya'ban)












