SAMPIT – Setelah mangkrak selama satu dekade, harapan baru mulai muncul untuk Pasar Mangkikit di Jalan Pangeran Antasari, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Bangunan pasar yang dibangun sejak 10 tahun lalu kini mencapai sekitar 60 persen kelayakan dan dinilai sudah cukup untuk difungsikan.
Pantauan langsung tim Berita Sampit mengungkapkan, secara fisik bangunan masih dalam kondisi cukup baik, meskipun mulai ditumbuhi rumput liar. Keberadaan pasar ini dinantikan warga sebagai alternatif pusat ekonomi baru, sekaligus untuk menggairahkan aktivitas jual beli di wilayah tersebut.
“Kondisinya bagus, kalau yang terlihat sudah 60 persen bangunan itu sudah bisa digunakan,” kata Andre, seorang warga yang berada di sekitaran lokasi, Selasa, 22 April 2025.
Bangunan Pasar Mangkikit berdiri kokoh di tengah pemukiman, namun tak banyak yang tahu bahwa proyek ini telah terbengkalai selama satu dekade. Meski belum rampung 100 persen, struktur pasar ini masih tampak gagah seolah menanti sentuhan akhir yang tak kunjung datang.
Di lantai pertama, deretan ruko kecil bersekat tertata rapi, dengan area tengah yang tampaknya dirancang sebagai lapak ikan. Sayangnya, rencana itu terhenti di tengah jalan.
Andre, yang mengikuti perkembangan pembangunan sejak awal, mengatakan bahwa proyek ini seharusnya bisa selesai hanya dalam waktu enam bulan atau sedikit lebih.
“Kalau yang saya lihat, harus bisa selesai dalam waktu 6 bulan atau lebih. Karena, di dalam itu tinggal memasang pintu tralis ruko, memberi pengaman di bagian samping tangga, dan memoles dinding biar lebih bagus. Kalau di beri keramik mungkin memakan waktu sekitar satu tahun,” katanya.
Bangunan yang berdiri sejak 2015 lalu dan pada 2020 mantan bupati Kotim Supian Hadi menjanjikan penyelesaian mangraknya Pasar Mangkikit dengan diambil alih oleh Pemda Kotim.
Kemudian, pada 2023 Bupati Kotim Halikinor berjanji akan melakukan audit terhadap pembangunan pasar tersebut dan akan dilanjutkan hingga selesai.
Namun, sampai saat ini bangunan tersebut masih mangkrak dan tidak memiliki kejelasan sama sekali kapan akan di gunakan.
(Oktavianto)












