PALANGKA RAYA – Badan Pusat Statistik Kalimantan Tengah mencatat pertumbuhan ekonomi provinsi itu pada triwulan I 2025 hanya mencapai 4,04 persen secara tahunan.
Di sisi lain, indeks ketimpangan gender justru naik, menandai kemunduran dalam pemberdayaan perempuan.
Konferensi pers yang digelar Senin, 5 Mei 2025, di Kantor BPS Kalteng, dipimpin langsung oleh Kepala BPS Agnes Widiastuti.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Tengah, Sri Widanarni, turut hadir secara luring di lokasi.
Dalam paparannya, Agnes menyebut bahwa secara kuartalan (q-to-q), ekonomi Kalteng mengalami kontraksi sebesar 6,57 persen.
“Kategori industri pengolahan tumbuh tertinggi, sebesar 6,66 persen, sedangkan dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tumbuh 9,91 persen,” ujar Agnes.
PDRB Kalimantan Tengah atas dasar harga berlaku pada triwulan I-2025 tercatat sebesar Rp58 triliun, sedangkan berdasarkan harga konstan 2010 sebesar Rp29,7 triliun.
Struktur perekonomian masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan (23,73 persen), diikuti industri pengolahan (16,88 persen), dan perdagangan (12,51 persen).
BPS juga melaporkan penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 3,47 persen, terendah di Kalimantan. Namun, proporsi pekerja formal justru menurun, dan pekerja paruh waktu mengalami peningkatan.
Yang mencemaskan, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Kalimantan Tengah naik dari 0,541 pada 2023 menjadi 0,549 pada 2024.
“Peningkatan ini dipicu oleh menurunnya capaian pemberdayaan, seperti partisipasi pendidikan dan keterwakilan perempuan di legislatif,” kata Agnes.
Proporsi perempuan berpendidikan SMA ke atas menurun, sementara laki-laki di legislatif naik menjadi 80 persen.
Kota Palangka Raya tercatat sebagai wilayah dengan ketimpangan gender paling rendah, disusul Barito Timur dan Kotawaringin Barat. Di sisi lain, Murung Raya mencatat kenaikan ketimpangan gender tertinggi.
Menanggapi laporan tersebut, Sri Widanarni mengatakan pemerintah daerah akan memperkuat sektor strategis untuk memperkecil kesenjangan gender dan memperkuat ekonomi lokal.
Ia juga mendorong hilirisasi sektor pertambangan. “Kami ingin ekspor dilakukan langsung dari Kalteng agar nilai tambah bisa dinikmati di daerah,” ujarnya.
(Sya'ban)












