PALANGKA RAYA – Aula Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah berubah menjadi ruang belajar tak biasa pada Selasa pagi, 6 Mei 2025.
Bukan aparat yang berdiskusi soal penanggulangan bencana, melainkan puluhan siswa SMA Golden Christian School Palangka Raya yang duduk menyimak paparan dengan penuh antusias.
Di tengah ruangan, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kalteng, Alpius Patanan, berdiri mewakili Kepala Pelaksana Ahmad Toyib.
Ia membuka kegiatan dengan sebuah pengantar yang tak hanya menggambarkan pentingnya kesiapsiagaan, tapi juga urgensi mengenalkan kebencanaan sejak usia sekolah.
“Kegiatan ini sangat edukatif, terutama bagi siswa-siswi agar mereka belajar langsung bagaimana menghadapi bencana, bahkan di lingkungan sekolah mereka sendiri,” ujar Alpius, yang mengenakan seragam lapangan khas BPBD.
Ia tak berbicara teknis semata. Alpius menyampaikan betapa pentingnya personel BPBD terus ditempa dengan pelatihan dan pemahaman kebencanaan.
Kalimantan Tengah, dengan kerentanan terhadap kebakaran hutan, banjir, dan tanah longsor, menurutnya menuntut kesiapan di segala lini.
Paparan berlanjut dengan perkenalan aplikasi InaRisk Personal. Di layar proyektor, Alpius menunjukkan bagaimana aplikasi ini bisa membantu siapa saja mengetahui ancaman bencana di sekitarnya cukup dari ponsel.
Ia juga mengenalkan konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), program nasional yang mendorong sekolah membentuk sistem mitigasi internal.
“SPAB ini sangat penting. Harapannya, SMA Golden Christian School bisa menindaklanjuti dengan koordinasi bersama bidang yang menangani pencegahan dan kesiapsiagaan,” ujarnya.
Sesi itu bukan monolog. Para siswa aktif bertanya tentang kebakaran hutan, tentang cara evakuasi, hingga simulasi yang pernah dilakukan BPBD.
Kepala SMA Golden Christian School, Kusumawati, yang mendampingi para siswanya, tak menutupi rasa senangnya. “Ini pengalaman luar biasa. Anak-anak kami mendapat pelajaran yang tak mereka temui di dalam kelas,” katanya.
Ia berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi agenda tahunan. Tak hanya kunjungan ke BPBD, tapi juga pelatihan langsung di sekolah.
“Kalau memungkinkan, kami ingin BPBD hadir langsung ke sekolah-sekolah. Sosialisasi langsung akan lebih mengena bagi siswa,” tambah Kusumawati.
Di luar aula, langit Palangka Raya cerah. Tapi di dalam ruangan itu, kesadaran baru telah tumbuh bahwa kesiapsiagaan bukan hanya urusan petugas lapangan, tapi juga tanggung jawab generasi muda.
(Sya'ban)












