PALANGKA RAYA – Pagi belum tinggi di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat. Udara masih segar, belum disergap aroma ampas gambut yang terbakar atau suara sirene tangki air yang meraung-raung.
Namun, kegelisahan tetap mengendap di benak warga. Seperti trauma yang tak pernah benar-benar pergi, musim kemarau di Kalimantan selalu datang membawa satu pertanyaan: “Kapan lagi api datang?”
Di tengah bayang-bayang itu, sekelompok orang berkumpul di sebuah lapangan terbuka. Seragam oranye mereka menyala kontras dengan warna tanah.
Mereka adalah bagian dari Masyarakat Peduli Api (MPA), regu baru yang dibentuk oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Tengah, yang kini kembali hadir di Kumai.
Tak sekadar hadir, mereka digembleng, diberi pengetahuan, keterampilan, dan keberanian untuk melawan salah satu bencana paling mematikan di Kalimantan: kebakaran hutan dan lahan.
“Di sini ada enam MPA yang kami bentuk. Masing-masing terdiri dari lima belas orang. Kami berikan materi pengendalian Karhutla dan juga praktik lapangan langsung,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, dalam keterangannya, Rabu, 7 Mei 2025.
Pelatihan itu bukan sekadar rutinitas. Ia adalah bagian dari strategi sistematis, membentuk Pos Lapangan Satgas Pengendali Karhutla dari warga sendiri dari mereka yang paling tahu medan dan paling pertama melihat kepulan asap di kejauhan.
Bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas, mereka menjadi garda depan pengendalian api yang selama ini membakar hutan, rumah, dan masa depan.
Pelatihan di Kotawaringin Barat menjadi rangkaian kelima dari total 14 kabupaten/kota yang akan disasar tahun ini. Sebelumnya, regu serupa sudah dibentuk di Palangka Raya, Pulang Pisau, Gunung Mas, dan Kapuas. Total akan ada 75 regu, dengan lebih dari seribu personel yang siap siaga.
Namun, Toyib mengingatkan, pelatihan bukan segalanya. “Keselamatan adalah prioritas. Jangan ambil risiko yang tak perlu. Gunakan alat pelindung, ikuti prosedur. Ini bukan hanya soal memadamkan api, tapi menyelamatkan nyawa, termasuk nyawa mereka sendiri,” katanya
Langkah BPBD ini bukan tanpa arah. Program pembentukan MPA adalah bagian dari 100 hari kerja Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Tengah periode 2025–2030. Visi mereka terang: Kalteng Bebas Kabut Asap pada 2025.
Cita-cita besar itu mulai digerakkan dari yang kecil dari desa–desa yang rawan terbakar, dari pelatihan yang dilatih dengan kesungguhan, dari satu regu MPA ke regu lainnya. Tahun lalu, 64 pos lapangan sudah berdiri. Tahun ini, menjadi 75.
“Kita percaya ini adalah modal besar. Dengan masyarakat sebagai garda depan, kita bisa wujudkan Kalimantan Tengah yang lebih tangguh terhadap bencana,” ujar Toyib.
Dan pagi di Kumai itu, ketika matahari mulai meninggi, latihan belum usai. Tapi semangat mereka sudah menyala. Kali ini bukan api yang membakar, melainkan harapan.
(Sya'ban)












