PALANGKA RAYA – Pagi baru saja merekah di Kota Cantik ketika satu per satu pegawai Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (TPHP) Kalimantan Tengah berdatangan ke aula.
Hari itu bukan hari biasa. Jumat, 9 Mei 2025, menjadi catatan penting dalam perjalanan institusi yang bersentuhan langsung dengan urat nadi ketahanan pangan daerah ini.
Sunarti, perempuan yang selama delapan tahun terakhir menjadi nakhoda Dinas TPHP, berdiri tenang di podium.
Tatapannya menyapu barisan kursi. Tak ada pidato yang berapi-api, tapi kata-katanya menyiratkan beban dan kebanggaan.
“Rotasi adalah hal biasa, tapi membangun pertanian adalah kerja panjang yang tidak selesai dalam satu periode,” katanya.
Tak lama, dokumen diserahterimakan. Tangan Sunarti menjabat erat tangan penggantinya, Rendy Lesmana, pria yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Sukamara.
Dari seremonial sederhana itu, tanggung jawab besar berpindah: dari tangan yang sudah terbiasa menghadapi fluktuasi musim tanam, ke tangan baru yang membawa semangat segar dan jejaring lintas daerah.
Dibalik momen tersebut, ada cerita lain yang tak bisa diabaikan: ancaman berkurangnya lahan pangan akibat alih fungsi. Kalimantan Tengah kehilangan sekitar 36.000 hektare sawah dalam beberapa tahun terakhir.
Tapi di balik itu pula, ada asa yang tumbuh: program Cetak Sawah Rakyat (CSR) dari Kementerian Pertanian yang menargetkan 100.000 hektare lahan baru di provinsi ini.
“Ini bukan program kecil, anggaran sebesar Rp3 triliun digelontorkan dari pusat melalui skema Tugas Pembantuan. Kami dikawal langsung oleh tim pusat,” kata Sunarti.
Ia menyampaikan hal itu tidak sekadar sebagai laporan, tetapi sebagai warisan tugas yang harus dijaga kesinambungannya.
Rendy Lesmana menerima tongkat estafet itu dengan tenang, namun tegas. Ia tahu medan yang akan dihadapi tidak mudah.
Selain menjalankan mandat nasional yang tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, ia juga harus menyatukan seluruh elemen di Dinas TPHP dalam satu semangat: ketahanan pangan adalah urusan semua.
“Pekerjaan ini adalah tanggung jawab bersama, saya harap semua tidak sungkan untuk berkomunikasi dan bekerja sama,” ujar Rendy.
Momen pergantian ini disaksikan langsung oleh para pejabat administrator, pengawas, fungsional, hingga staf pelaksana.
Di antara mereka, ada yang mencatat, ada yang terdiam, ada pula yang menatap masa depan pertanian Kalteng dengan harapan baru.
Di luar gedung, angin semilir menerpa lahan-lahan yang dulu hijau, kini sebagian menguning dan berubah fungsi.
Tapi di dalam sana, semangat untuk menanam kembali sedang dirawat, mulai dari sebuah meja, di satu aula, dalam satu penyerahan tanggung jawab yang tak pernah remeh.
(Sya'ban)












