PALANGKA RAYA – Siang itu, Jumat 9 Mei 2025, langit Palangka Raya tampak bersahabat. Angin semilir menyusup masuk ke dalam Aula Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Tengah.
Suasana di ruangan itu tak sekadar formal, ada getaran emosi yang halus mengalir di antara kursi-kursi pegawai, pejabat, dan tamu undangan.
Hari itu bukan hanya tentang serah terima jabatan. Lebih dari itu, ia adalah momen peralihan amanah, pengalungan harapan baru di pundak yang berbeda.
Sri Widanarni berdiri di depan ruangan, tenang dan teguh. Mantan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kalteng itu kini resmi menjadi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) yang baru.
Ia menggantikan H. Darliansjah, yang kini mengemban tugas sebagai Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik.
Dengan suara yang terukur, Sri membuka sambutan. Ia tidak bicara soal rencana besar yang rumit. Ia bicara tentang nilai. Tentang kerja sebagai bagian dari ibadah. Tentang menjadikan integritas dan profesionalisme sebagai kebiasaan.
“Saya ingin nilai-nilai BerAKHLAK dan semangat SUKA IKAN tidak hanya menjadi slogan, tapi menjadi napas dari cara kita bekerja setiap hari,” ucapnya.
Di baris depan, Darliansjah menyimak. Wajahnya tenang. Di masa jabatannya, Dislutkan Kalteng mencatat sejumlah capaian penting.
Termasuk inisiasi kawasan tambak udang Shrimp Estate Berkah yang menjadi salah satu program unggulan dalam pengembangan perikanan budidaya. Ia mengenang masa itu sebagai fase penuh tantangan sekaligus kebanggaan.
“Saya merasa beruntung pernah menjadi bagian dari keluarga ini,” katanya kemudian, saat diberi waktu berbicara.
“Potensi kelautan dan perikanan Kalteng luar biasa. Dari sungai-sungai besar hingga kawasan pesisir, semua menyimpan peluang kesejahteraan. Tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan bijak,” ujar Darliansjah.
Ia tidak hanya mengucapkan terima kasih, tetapi juga menyampaikan pesan: agar apa yang telah dimulai tidak berhenti, dan apa yang belum tergarap segera ditindaklanjuti. Kata-katanya seperti pelampung yang dilepas ke laut luas, mengapung, mengarahkan, dan menyelamatkan.
Tugas yang Tak Pernah Usai
Sri Widanarni tahu, pekerjaan ini bukan sekadar memimpin lembaga teknis. Ini tentang memastikan bahwa laut dan sungai, ikan dan tambak, bukan hanya sumber pangan, tapi juga sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Maka ia mengajak seluruh pegawai bergandeng tangan, tak hanya dalam koordinasi, tapi juga dalam semangat yang satu.
“Saya tidak bisa bekerja sendiri. Saya butuh inovasi dari semua lini. Kita akan terus mendukung visi-misi Gubernur Kalteng 2025–2030 untuk mendorong sektor ini menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Di akhir acara, tangan-tangan saling menjabat. Ada tawa, ada foto bersama, dan ada keheningan singkat yang tidak tertangkap kamera: jeda reflektif saat seseorang menatap masa lalu yang ditinggalkan dan masa depan yang segera dijemput.
Karena di kantor ini, di balik data produksi perikanan dan laporan tambak budidaya, yang sedang dijaga adalah sesuatu yang lebih besar: harapan agar Kalimantan Tengah terus tumbuh, berkah, maju, dan tidak melupakan akarnya yang membentang di atas air.
(Sya'ban)












