Kehadiran Gubernur Hendrik di Wisuda Unidjar 2025, Simbol Komitmen Maluku pada Pendidikan dan Transformasi Digital

Gubernur Hendrik Lewerissa.

Oleh: Adista Pattisahusiwa

Besok, 17 Juni 2025, Universitas Dr. Djar Wattiheluw (Unidjar) di Masohi, Maluku Tengah, akan menggelar wisuda angkatan kedua, sebuah momen bersejarah bagi institusi pendidikan yang baru saja beralih status dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Said Perintah menjadi universitas pada 2023.

Kabar yang beredar menyebutkan bahwa Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, berencana menghadiri acara ini. Potensi kehadiran gubernur menimbulkan diskusi menarik tentang peran pemimpin daerah dalam mendukung pendidikan tinggi, transformasi digital, dan pembangunan sumber daya manusia di Maluku.

Kehadiran ini, jika terwujud, bukan sekadar seremonial, melainkan simbol komitmen Maluku untuk menjawab tantangan zaman melalui pendidikan berkualitas.

Unidjar, Mercusuar Pendidikan di Maluku Tengah

Unidjar bukanlah universitas sembarangan. Berdiri di tengah Masohi, kota yang menjadi jantung Maluku Tengah, Unidjar hadir dengan visi besar, menjadi pusat pendidikan yang mendorong transformasi digital dan kemandirian masyarakat.

Dengan enam program studi, termasuk Ilmu Komputer yang baru saja meraih akreditasi “Baik” dari LAM-Infokom, Unidjar menunjukkan ambisi untuk tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memimpinnya di kawasan timur Indonesia.

Wisuda perdana pada 9 November 2024, yang meluluskan 157 sarjana, menjadi bukti bahwa Unidjar mampu menghasilkan lulusan yang siap bersaing. Kini, wisuda angkatan kedua di 2025 menjadi tonggak baru, menegaskan bahwa universitas ini serius membangun generasi unggul.

Namun, tantangan Unidjar tidak kecil. Sebagai universitas swasta di wilayah yang secara geografis dan ekonomis terisolasi, Unidjar harus berjuang melawan keterbatasan infrastruktur, akses teknologi, dan stigma bahwa pendidikan tinggi di daerah timur Indonesia kurang kompetitif.

Di sinilah peran tokoh seperti Gubernur Hendrik menjadi krusial. Kehadirannya di acara wisuda bukan hanya soal protokoler, tetapi juga sinyal bahwa pemerintah daerah berkomitmen mendukung institusi pendidikan seperti Unidjar untuk menjawab tantangan tersebut.

baca juga ...  Kolatlena Dukung Penuh Inisiatif Gubernur Maluku Dorong UU Kepulauan dan Pembangunan Maritim

Gubernur Hendrik, Representasi Harapan Baru Maluku

Hendrik Lewerissa, yang resmi ditetapkan sebagai Gubernur Maluku untuk periode 2025-2030 pada Januari 2025, membawa harapan baru bagi provinsi yang kaya akan budaya dan sumber daya alam, tetapi masih tertinggal dalam banyak aspek pembangunan.

Sebagai pemimpin yang terpilih melalui proses demokratis, Hendrik memiliki tanggung jawab besar untuk mewujudkan visi Maluku yang maju, termasuk melalui sektor pendidikan.

Kehadirannya di wisuda Unidjar, jika benar terjadi, akan menjadi langkah simbolis yang kuat. Ini menunjukkan bahwa gubernur tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga pada investasi jangka panjang melalui pendidikan tinggi.

Lebih dari itu, kehadiran Hendrik bisa menjadi katalis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat.

Maluku, dengan kekayaan alam seperti perikanan dan potensi pariwisata, membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengelola aset-aset ini dengan pendekatan modern.

Program studi seperti Teknologi Hasil Perikanan dan Ilmu Komputer di Unidjar adalah jawaban atas kebutuhan tersebut. Jika gubernur menunjukkan dukungan eksplisit, misalnya melalui kebijakan beasiswa, pelatihan digital, atau kemitraan dengan industri, maka Unidjar dan universitas lain di Maluku bisa menjadi motor penggerak ekonomi berbasis pengetahuan.

Transformasi Digital, Narasi yang Harus Menyeruak

Di tengah era revolusi industri 4.0 dan menuju 5.0, transformasi digital bukan lagi pilihan seminar, tetapi kebutuhan mendesak. Maluku, dengan tantangan konektivitas internet dan literasi digital yang masih rendah di beberapa daerah, membutuhkan institusi seperti Unidjar yang berani mengambil peran sebagai pelopor.

Program Ilmu Komputer Unidjar, misalnya, tidak hanya mengajarkan pemrograman, tetapi juga membangun mindset inovasi.

Lulusan dari program ini berpotensi menciptakan solusi teknologi yang relevan dengan konteks lokal seperti aplikasi untuk pengelolaan pasar tradisional, sistem informasi , atau platform digital untuk mempromosikan budaya Maluku ke dunia.

baca juga ...  Legislator Gerindra Optimistis Maluku Jadi Role Model Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia

Namun, transformasi digital tidak akan berhasil tanpa dukungan sistemik. Di sinilah kehadiran Gubernur Hendrik di wisuda Unidjar menjadi relevan. Jika ia hadir, ini adalah kesempatan untuk menyampaikan visi konkreks tentang bagaimana pemerintah Maluku akan mendukung pendidikan teknologi.

Misalnya, memperluas akses internet ke pelosok Maluku Tengah, menyediakan laboratorium teknologi untuk universitas, atau bahkan menggandeng perusahaan teknologi untuk magang mahasiswa.

Langkah-langkah ini akan menunjukkan bahwa Maluku tidak hanya ingin mengejar ketertinggalan, tetapi juga menjadi pelaku aktif dalam ekonomi digital.

Tantangan dan Harapan

Tentu saja, ada skeptisisme yang wajar. Banyak acara seremonial seperti wisuda, sering kali hanya menjadi ajang foto tanpa tindak lanjut nyata.

Kehadiran gubernur bisa dianggap sekadar formalitas jika tidak diikuti oleh kebijakan yang mendukung. Selain itu, Unidjar sendiri masih muda sebagai universitas dan perlu membuktikan konsistensi dalam menghasilkan lulusan berkualitas serta penelitian yang berdampak.

Tantangan seperti keterbatasan dana, fasilitas, dan akses ke jurnal harus diatasi agar Unidjar bisa bersaing dengan universitas lain di Indonesia.

Namun, di balik tantangan, ada harapan besar. Wisuda angkatan kedua Unidjar adalah bukti bahwa universitas ini sedang menapaki jalan yang benar.

Kehadiran Gubernur Hendrik, jika terwujud, bisa menjadi momen untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan akademisi. Bayangkan jika acara ini menjadi titik awal dari program beasiswa “Maluku Digital”.

Atau kemitraan dengan startup teknologi untuk inkubasi ide mahasiswa. Ini bukan mimpi kosong, tetapi peluang nyata jika ada kemauan dan visi yang jelas.

Harapannya juga dengan adanya kehadiran Gubernur Maluku dapat membawa angin segar dan perhatian Pemda setempat terkait keberadaan Unidjar yang telah lama berkontribusi terhadap pemerintah daerah terebut.

baca juga ...  Penganugerahan Bintang Mahaputera Adipurna untuk Bahlil Lahadalia Bukti Dedikasi Luar Biasa bagi Bangsa

Sebagai Penutup

Wisuda Unidjar pada 17 Juni 2025 bukan sekadar perayaan kelulusan, tetapi juga cerminan cita-cita Maluku untuk bangkit melalui pendidikan dan teknologi.

Potensi kehadiran Gubernur Hendrik Lewerissa di acara ini adalah simbol harapan bahwa pemerintah daerah serius mendukung visi tersebut.

Namun, simbol saja tidak cukup. Kepada Gubernur Hendrik, ini adalah panggilan untuk menjadikan momen ini sebagai awal dari kebijakan nyata yang memperkuat pendidikan tinggi di Maluku.

Kepada Unidjar, ini adalah tantangan untuk terus berinovasi dan membuktikan bahwa universitas di daerah timur Indonesia mampu bersaing di panggung dan global.

Dan kepada masyarakat Maluku, ini adalah undangan untuk mendukung institusi lokal seperti Unidjar sebagai mercusuar masa depan.

Maluku bukan hanya tentang laut dan rempah. Dengan pendidikan berkualitas dan transformasi digital, Maluku bisa menjadi pusat inovasi yang menyengat dunia. Mari kita jadikan wisuda Unidjar 2025 sebagai langkah pertama menuju cita-cita besar itu. (***)

Penulis Adalah Wartawan Dest

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!