PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah (Kalteng) menegaskan arah pembangunan lima tahun ke depan difokuskan pada hilirisasi sumber daya alam dan pengembangan kawasan ekonomi berbasis industri pengolahan.
Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Kalteng, H. Edy Pratowo, dalam Rapat Paripurna ke-12 DPRD Provinsi Kalteng, Rabu pagi, 18 Juni 2025, saat menjawab Pemandangan Umum Fraksi Partai Golkar atas Raperda RPJMD 2025-2029.
Menurut Edy, hilirisasi merupakan strategi utama untuk menciptakan nilai tambah produk lokal, membuka lapangan kerja, dan mengurangi ketergantungan daerah pada komoditas mentah.
“Kita sedang menyiapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) baru di Tanjung Puting sebagai pusat industri pengolahan dan logistik,” ujar Edy.
Ia menjelaskan bahwa posisi geografis Kalimantan Tengah yang langsung menghadap ke Laut Jawa memberi keuntungan strategis untuk ekspor hasil industri.
Oleh karena itu, pengembangan pelabuhan Bahaur-Batanjung akan dipercepat, termasuk pengerukan sungai dan pembangunan infrastruktur pendukung.
“Ekspor hasil hilirisasi dari sektor pertambangan, sawit, dan perkebunan ke Pulau Jawa atau pasar ekspor tidak perlu lagi melalui Banjarmasin. Ini akan mengurangi biaya logistik dan meningkatkan efisiensi distribusi,” jelasnya.
Edy juga menyebut rencana konektivitas antarwilayah seperti PKW Buntok dan Kuala Kapuas menjadi perhatian serius.
“Ini akan mendukung mobilitas hasil hilirisasi di Buntok ke pelabuhan strategis di pesisir,” tambahnya.
Dalam RPJMD ini, Pemprov juga mendorong investasi swasta dan penguatan BUMD untuk menopang pengembangan kawasan ekonomi.
Selain itu, skema kerja sama dengan pusat juga disiapkan, termasuk insentif fiskal dan kemudahan perizinan bagi investor.
Tak hanya dari sisi infrastruktur dan regulasi, Pemprov juga menyiapkan SDM lokal melalui pendidikan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Transformasi ekonomi harus didukung dengan kesiapan tenaga kerja lokal yang kompeten,” tegas Edy.
Langkah ini sejalan dengan misi Kalteng dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi baru yang merata, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi di tingkat regional maupun nasional.
(Sya'ban)












