Persatuan Umat Islam di Tengah Provokasi Syiah-Sunni dan Solidaritas untuk Palestina

Tweet Ayatollah Khamenei. Ist

Oleh: Adista Pattisahusiwa

Pernyataan Ayatollah Ali Khamenei yang mengungkapkan bahwa negara-negara arogan, khususnya Amerika Serikat, memiliki agenda untuk memicu perselisihan antara Muslim Syiah dan Sunni, menggambarkan sebuah realitas geopolitik yang telah lama menjadi perhatian dunia Islam.

Sejarah panjang intervensi Barat di Timur Tengah, mulai dari era kolonialisme, pembagian wilayah pasca Perang Dunia, hingga konflik modern seperti di Irak, Suriah, dan Yaman menunjukkan pola yang jelas memecah belah umat Islam untuk melemahkan kekuatan kolektif mereka.

Dengan memanfaatkan perbedaan teologis antara Syiah dan Sunni, kekuatan ekspansionis menciptakan konflik internal yang mengalihkan perhatian dari isu-isu krusial, seperti pendudukan Palestina, eksploitasi sumber daya, dan hegemoni budaya Barat.

Khamenei menegaskan bahwa konflik Syiah-Sunni adalah “apa yang benar-benar diinginkan AS.” Ini bukan sekadar retorika, melainkan pengamatan atas strategi lama yang dikenal sebagai divide et impera (pecah dan kuasai).

Dengan memperkeruh perbedaan mazhab, pihak eksternal dapat dengan mudah mempertahankan pengaruh mereka di kawasan kaya sumber daya seperti Timur Tengah, sembari memastikan dunia Islam tetap terpecah dan tidak mampu bersatu menghadapi ancaman bersama.

Namun, peringatan Khamenei untuk “tetap waspada setiap saat dan di semua lini” menuntut umat Islam untuk tidak hanya mengenali agenda ini, tetapi juga mengambil langkah proaktif untuk menangkalnya.

Di sisi lain, pandangan Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, KH Yahya Zainul Ma'arif (Buya Yahya), seorang ulama terkemuka dari Indonesia, menawarkan perspektif yang melengkapi seruan Khamenei.

Dengan tegas, Buya Yahya menyatakan bahwa isu kemanusiaan, seperti penderitaan rakyat Palestina, tidak boleh terhalang oleh perbedaan akidah antara Syiah dan Aswaja (Sunni).

Pernyataannya, “Hari ini bukan waktunya kita bicara itu,” adalah pengingat bahwa perbedaan teologis tidak boleh mengalihkan fokus dari solidaritas umat.

baca juga ...  Dibombardir Iran, Ini Strategi Israel Tutupi Jumlah Korban

Palestina, sebagai isu sentral yang disoroti Khamenei, bukan hanya soal atau wilayah, tetapi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan global.

Ketika umat Islam terjebak dalam perdebatan internal, energi untuk mendukung perjuangan Palestina dan isu kemanusiaan lainnya menjadi terpecah, yang pada akhirnya menguntungkan pihak-pihak yang ingin melihat dunia Islam lemah.

Menariknya, meskipun berasal dari latar belakang mazhab yang berbeda, Khamenei dan Buya Yahya menunjukkan keselarasan dalam esensi persatuan adalah kunci untuk menghadapi tantangan global.

Khamenei menegaskan bahwa kemenangan Palestina adalah “sesuatu yang pasti,” sebuah pernyataan yang tidak hanya mencerminkan optimisme, tetapi juga panggilan untuk mempertahankan fokus pada isu besar yang menyatukan umat.

Sementara itu, Buya Yahya menawarkan pendekatan praktis dengan mengesampingkan perbedaan akidah demi mendukung kemanusiaan.

Ini merupakan pengingat bahwa perjuangan umat Islam tidak akan berhasil jika terjebak dalam konflik sektarian yang justru diciptakan atau dimanfaatkan oleh pihak luar.

Tantangan besar bagi umat Islam saat ini, termasuk di Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, adalah bagaimana menjaga kewaspadaan terhadap provokasi eksternal tanpa terjerumus ke dalam perpecahan internal.

Indonesia, dengan keragaman budaya dan pemahaman keagamaannya, memiliki potensi besar untuk menjadi model persatuan umat. Namun, ini membutuhkan upaya kolektif, seperti pendidikan yang menekankan toleransi antar-mazhab, dialog lintas-kelompok, dan penguatan narasi persatuan.

Media sosial, yang sering menjadi sarana penyebaran provokasi, juga harus dimanfaatkan secara bijak untuk menyebarkan pesan solidaritas, bukan kebencian.

Lebih jauh, isu Palestina yang ditekankan Khamenei harus dilihat sebagai panggilan untuk aksi nyata. Dukungan terhadap Palestina tidak hanya soal pernyataan solidaritas, tetapi juga langkah konkret seperti kampanye kemanusiaan, boikot produk yang mendukung penjajahan, dan tekanan diplomatik.

baca juga ...  Di Tengah Badai 1966: Ketika Jakarta Bergolak dan Orang-Orang Biasa Bertahan Hidup

Di Indonesia, misalnya, masyarakat sipil dan organisasi keagamaan dapat memainkan peran besar dalam mengedukasi publik tentang pentingnya isu ini, sekaligus menjaga agar perbedaan mazhab tidak menjadi penghalang.

Pada akhirnya, seruan Khamenei untuk waspada terhadap agenda perpecahan dan pesan Buya Yahya untuk mengutamakan kemanusiaan adalah dua sisi dari koin yang sama, persatuan umat Islam adalah kekuatan terbesar untuk melawan ketidakadilan.

Dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks, umat Islam harus belajar untuk tidak mudah terprovokasi, fokus pada musuh bersama ketidakadilan dan penjajahan dan menjadikan isu seperti Palestina sebagai perekat, bukan pemecah.

Seperti kata Buya Yahya, “Hari ini bukan waktunya kita bicara perbedaan.” Hari ini adalah waktunya untuk bersatu, bergerak, dan mewujudkan kemenangan yang diyakini Khamenei sebagai sebuah kepastian. (***)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!