Oleh: Adista Pattisahusiwa
Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang hidup dalam pengasingan, terus menjadi figur polarisasi dengan seruannya untuk menggulingkan Ayatollah Ali Khamenei dan mengakhiri rezim teokrasi Republik Islam Iran.
Dari kediamannya di Amerika Serikat, Pahlavi memposisikan dirinya sebagai pemimpin simbolis yang ingin membawa Iran menuju demokrasi sekuler, menjanjikan masa depan yang bebas dari represi dan krisis ekonomi.
Namun, di tengah retorika yang ambisius ini, muncul pertanyaan mendasar, apakah Pahlavi memiliki kapasitas nyata untuk mewujudkan visinya, atau ini hanya angan-angan seorang eksil yang terlalu jauh dari realitas Iran?
Berikut adalah analisis mendalam tentang peluang, tantangan, dan implikasi dari perjuangannya.
Latar Belakang Seruan Pahlavi
Reza Pahlavi adalah pewaris dinasti Pahlavi, yang berkuasa di Iran hingga Revolusi Islam 1979 menggulingkan ayahnya, Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Sejak remaja, Reza hidup di pengasingan, terutama di AS, setelah keluarganya menjadi target kebencian rezim baru di bawah Ayatollah Khomeini. Dalam beberapa tahun terakhir, ia semakin vokal menyerang kepemimpinan Khamenei.
Pada Juni 2025, dalam wawancara di Paris Prancis, Pahlavi menyebut rezim Iran “lemah dan terpecah,” menuduh Khamenei menggunakan rakyat sebagai alat dalam konflik regional, seperti ketegangan dengan Israel.
Reza juga mengklaim memiliki dukungan dari disiden dalam negeri dan sedang membangun platform untuk mengoordinasikan transisi damai menuju demokrasi.
Seruan ini tidak muncul dari kekosongan. Iran menghadapi krisis multidimensional, sanksi internasional yang melumpuhkan ekonomi, inflasi yang meroket, dan kemiskinan yang meluas.
Protes rakyat, seperti yang dipicu kematian Mahsa Amini pada 2022, mencerminkan ketidakpuasan mendalam terhadap represi dan kegagalan ekonomi rezim.
Pahlavi melihat momen ini sebagai peluang untuk memobilisasi oposisi, menawarkan visi Iran yang modern, terbuka, dan terintegrasi dengan komunitas internasional.
Aset Pahlavi, Simbolisme dan Dukungan Internasional
Pahlavi memiliki beberapa keunggulan yang membuatnya relevan dalam wacana politik Iran. Pertama, ia adalah simbol monarki yang masih menarik bagi sebagian kecil rakyat Iran, terutama nasionalis sekuler yang merindukan era pra-revolusi, ketika Iran dianggap lebih kosmopolitan dan dekat dengan Barat.
Meski monarki Shah dikritik karena otoritarianisme, ada nostalgia di kalangan tertentu untuk stabilitas dan kemajuan relatif pada masa itu.
Kedua, Pahlavi memiliki akses ke platform internasional. Dengan koneksi di AS, Eropa, dan bahkan Israel, terbukti dari kunjungannya ke Tel Aviv pada 2023, ia mampu menyuarakan narasinya melalui media global dan mendapatkan simpati dari aktor Barat.
Ketiga, Pahlavi menonjolkan narasi “transisi damai” yang strategis. Ia menegaskan tidak ingin merebut kekuasaan untuk dirinya sendiri, melainkan hanya memfasilitasi proses menuju demokrasi.
Ini adalah upaya untuk meredam kecurigaan bahwa ia sekadar ingin mengembalikan monarki. Narasi ini juga menarik bagi komunitas internasional yang mendukung perubahan rezim tanpa intervensi militer langsung.
Keempat, krisis internal Iran, ekonomi yang morat-marit dan represi yang memicu protes memberikan amunisi bagi Pahlavi untuk menyerang legitimasi Khamenei sebagai pemimpin yang gagal.
Tantangan Besar, dan Kurangnya Infrastruktur
Meski punya visi dan akses, Pahlavi menghadapi hambatan signifikan yang melemahkan peluangnya.
Pertama, ia terisolasi dari realitas Iran. Hidup di pengasingan selama lebih dari 40 tahun membuatnya asing bagi generasi muda Iran, yang lebih akrab dengan tantangan sehari-hari di bawah sanksi dan represi ketimbang sejarah monarki.
Banyak yang memandangnya sebagai figur elit yang tidak memahami penderitaan rakyat biasa, apalagi dengan gaya hidupnya yang nyaman di AS. Keterputusan ini diperparah oleh persepsi bahwa ia adalah “antek Barat,” terutama karena hubungannya dengan AS dan Israel.
Kedua, Pahlavi tidak memiliki infrastruktur politik atau militer di Iran. Ia berbicara tentang “platform aman” untuk disiden, tetapi tidak ada bukti konkret bahwa ini lebih dari sekadar wacana.
Tanpa organisasi fisik, jaringan aktivis, atau kekuatan bersenjata, seruannya untuk menggulingkan rezim terdengar kosong. Sebaliknya, rezim Khamenei mengendalikan Garda Revolusi Iran (IRGC), militer, dan milisi yang sangat loyal, dengan pengalaman panjang dalam menumpas oposisi.
Protes rakyat, meski berani, sering kali tidak terkoordinasi dan mudah dipadamkan oleh aparat keamanan.
Ketiga, legitimasi Pahlavi dipertanyakan di kalangan rakyat Iran. Rezim Shah dulu juga otoriter, dengan dinas rahasia SAVAK yang terkenal kejam. Bagi banyak orang, monarki adalah bagian dari masa lalu yang bermasalah, bukan solusi untuk masa depan.
Narasi demokrasi Pahlavi sering dianggap munafik, terutama oleh mereka yang mengingat pelanggaran HAM di era ayahnya. Keempat, klaim Pahlavi tentang dukungan internal seperti “tim di dalam Iran” atau pemimpin rezim yang mulai kaburr, belum terverifikasi dan bisa jadi strategi untuk melemahkan moral rezim tanpa bukti nyata.
Kontroversi Hubungan dengan Israel dan AS
Faktor paling polarisasi dalam perjuangan Pahlavi adalah hubungannya dengan Israel dan AS. Kunjungannya ke Israel pada 2023, yang ia sebut sebagai upaya membangun “jembatan historis,” memicu kemarahan di Iran, di mana sentimen anti-Israel sangat kuat.
Rezim Khamenei memanfaatkan ini untuk mencap Pahlavi sebagai “Zionis” atau “boneka Barat,” narasi yang resonan di kalangan nasionalis Iran yang curiga terhadap campur tangan asing.
Sejarah Iran, termasuk kudeta 1953 yang didukung CIA, memperkuat kecurigaan ini. Dukungan implisit Pahlavi untuk aksi militer Israel terhadap target strategis Iran, meski dengan catatan untuk tidak menyakiti rakyat, semakin mempersulit posisinya.
Bagi banyak orang Iran, ini terlihat seperti pengkhianatan, bukan strategi pembebasan.
Di sisi lain, hubungan dengan AS dan Israel memberi Pahlavi akses ke sumber daya diplomatik dan media. Namun, ini adalah pedang bermata dua. Dukungan Barat bisa memperkuat narasinya di panggung global, tetapi di Iran, itu justru melemahkan legitimasi karena rakyat sensitif terhadap intervensi asing.
Dalam konteks konflik regional yang memanas, seperti ketegangan Iran-Israel di Gaza dan Lebanon, posisi Pahlavi semakin rentan. Ia berisiko dianggap sebagai kolaborator, bukan pemimpin nasional. Pahlavi seolah main catur, tapi langkahnya bikin pionnya sendiri takut lari dari papan.
Prospek Masa Depan, Antara Harapan dan Realitas
Apakah Reza Pahlavi mampu menggulingkan Khamenei? Saat ini, peluangnya sangat terbatas. Rezim Khamenei, meski menghadapi tekanan ekonomi dan protes rakyat, masih memegang kendali atas aparat keamanan dan institusi kunci.
Pahlavi, sebaliknya, tidak memiliki pasukan, basis massa yang kuat, atau infrastruktur untuk memimpin revolusi. Seruannya untuk transisi damai melalui “hukum dan pengadilan yang adil” terdengar idealis, tetapi tidak realistis tanpa kekuatan konkret untuk mendukungnya.
Protes seperti pada 2022 menunjukkan potensi pemberontakan, tetapi tanpa koordinasi dan kepemimpinan yang jelas, mereka tidak cukup untuk menggulingkan rezim.
Namun, politik bersifat dinamis. Jika krisis ekonomi memburuk atau terjadi pemberontakan besar yang tidak terkendali, Pahlavi bisa menjadi simbol perubahan bagi kelompok sekuler dan nasionalis.
Untuk itu, ia perlu mengatasi keterputusannya dengan rakyat Iran, membangun koalisi oposisi yang inklusif, dan menjaga jarak dari strategi yang terlihat pro-Barat secara berlebihan.
Ia juga harus lebih sensitif terhadap sentimen anti-Israel di Iran untuk menghindari alienasi. Tanpa langkah ini, ia berisiko tetap menjadi figur marginal, lebih dikenal sebagai komentator di media Barat daripada pemimpin di Tehran.
Pahlavi bisa jadi simbol perubahan bagi kelompok sekuler. Namun, tanpa organisasi nyata dan strategi yang lebih “santai” soal Israel, ia lebih berisiko jadi pahlawan di medsos X ketimbang di Tehran.
Kesimpulan, Perjuangan yang Mulia, Tapi Terisolasi
Reza Pahlavi menawarkan visi yang menarik untuk Iran, sebuah negara demokratis, modern, dan bebas dari teokrasi. Namun, visinya terhambat oleh keterputusannya dari rakyat Iran, kurangnya infrastruktur politik, dan kontroversi hubungan internasionalnya.
Visinya itu kayak film Hollywood, epik di layar, sulit di dunia nyata. Dia perlu turun dari “istana pengasingan” dan membangun jembatan dengan rakyat Iran, bukan cuma dengan pejabat Barat.
Mungkin, alih-alih ngoceh soal Khamenei, dia bisa mulai dengan, “Guys, aku tahu bapakku dulu ngeselin, tapi kita move on yuk, bikin Iran kece bareng!”
Untuk saat ini, ia lebih merupakan simbol harapan bagi segelintir orang daripada kekuatan revolusioner yang nyata.
Perjuangan untuk masa depan Iran tidak hanya bergantung pada Pahlavi atau Khamenei, tetapi pada rakyat Iran itu sendiri, yang telah menunjukkan keberanian luar biasa dalam menghadapi represi.
Pahlavi mungkin punya mimpi besar, tetapi tanpa jembatan menuju realitas tanah airnya, ia tetap pangeran dalam pengasingan, penuh semangat, namun jauh dari tahta atau perubahan sejati.
Pahlavi cuma satu karakter dalam drama besar ini, dan untuk sekarang, dia lebih mirip cameo ketimbang pemeran utama. (***)












