SAMPIT – Fenomena mengejar sekolah favorit kembali mewarnai proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) atau SPMB tahun 2025 di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), hal ini mengurangi perkembangan dalam pemerataan pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan Kotim, Muhammad Irfansyah, menilai banyak orang tua masih lebih mengutamakan gengsi atau alasan emosional saat memilih sekolah untuk anak, alih-alih mempertimbangkan kenyamanan serta kedekatan lokasi.
Irfansyah menegaskan, memilih sekolah seharusnya didasarkan pada kebutuhan anak, bukan semata keinginan orang tua. Ia menyebut lingkungan yang dekat dan nyaman penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara psikologis maupun logistik.
“Kalau anak harus menempuh jarak jauh hanya demi gengsi orang tua, itu bukan keputusan bijak. Sekolah terdekat justru sering kali memberikan rasa aman dan dukungan sosial yang lebih kuat,” kata Irfansyah, Rabu 25 Juni 2025.
Ada yang memilih sekolah karena orangtua atau keluarganya dulu pernah bersekolah di situ atau karena dekat tempat kerja. Padahal sistem zonasi sudah dibuat agar anak mendapatkan pendidikan yang lebih dekat dan mendukung kebutuhan mereka.
Ia menjelaskan, tahun ini terdapat empat jalur penerimaan siswa, yakni jalur domisili, afirmasi (untuk kelompok rentan), prestasi, dan mutasi. Namun, untuk jenjang TK ke SD, jalur prestasi ditiadakan karena belum adanya rekam jejak akademik anak.
Meski secara umum proses SPMB berjalan lancar dan tepat waktu, masih terlihat ketimpangan jumlah pendaftar. Beberapa sekolah yang dianggap unggulan tetap dibanjiri peminat, padahal seluruh sekolah di Kotim telah memenuhi standar minimal pelayanan pendidikan.
“Semua sekolah pada dasarnya memiliki kualitas yang relatif sama. Jangan sampai hak anak mendapatkan akses pendidikan yang layak dan nyaman justru terkorbankan karena ambisi pribadi orang tuanya,” tutup Irfansyah. (nardi)












