KUALA KURUN – Pemerintah Kabupaten Gunung Mas terus melangkah pasti dalam membangun sistem pendidikan yang ramah bagi semua kalangan. Melalui Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga, Pemkab menggelar Workshop Manajemen Sekolah Inklusi bagi kepala sekolah jenjang TK, SD, dan SMP se-Kabupaten Gunung Mas. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Bapperida pada Senin, 7 Juli 2025.
Wakil Bupati Gunung Mas, Efrensia L.P. Umbing, hadir langsung membuka kegiatan sekaligus memberikan suntikan semangat kepada para kepala sekolah. Ia menegaskan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar wacana, melainkan amanat konstitusi yang harus dijalankan dengan sepenuh hati.
“Pendidikan inklusif bukan pilihan. Ini adalah kewajiban moral dan hukum kita semua untuk memastikan setiap anak, tanpa kecuali, mendapat hak atas pendidikan yang layak,” ungkap Efrensia L.P Umbing.
Dikatakannya, komitmen pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan inklusif telah diperkuat dengan Permendiknas No. 70 Tahun 2009, yang mengatur bahwa sekolah reguler wajib menerima peserta didik dengan kebutuhan khusus, termasuk mereka yang memiliki potensi kecerdasan luar biasa.
Menurut Efrensia, Kabupaten Gunung Mas tengah bergerak membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya mengedepankan kualitas, tetapi juga keadilan dan keberagaman.
“Kami terus memperkuat kebijakan dan program daerah yang berpihak pada anak-anak berkebutuhan khusus. Ini adalah bagian dari visi besar kita untuk menciptakan pendidikan yang benar-benar inklusif,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang tinggi kepada para kepala sekolah yang disebutnya sebagai ujung tombak perubahan. Selain itu dia mengajak seluruh peserta workshop untuk menjadi agen transformasi di sekolah masing-masing.
“Mari kita jadikan Kabupaten Gunung Mas sebagai pelopor pendidikan tanpa batas. Sekolah yang membuka pintu bagi siapa pun, sekolah yang memanusiakan semua murid,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Gunung Mas, Aprianto menegaskan pentingnya kegiatan ini dalam mencetak pemimpin-pemimpin pendidikan yang berpihak pada keberagaman.
“Dengan workshop ini, kita berharap muncul pemimpin-pemimpin sekolah yang tidak hanya memahami, tetapi juga mampu mewujudkan praktik inklusi secara nyata di sekolah masing-masing,” ungkap nya.
Ia menambahkan bahwa pendidikan inklusi bukan hanya tentang menerima peserta didik berkebutuhan khusus, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang menghargai perbedaan dan menjamin hak setiap anak untuk mendapatkan layanan pendidikan yang layak.
Pada kesempatan ini, dia berharap bahwa, melalui workshop tersebut, seluruh anak tanpa memandang latar belakang, kondisi fisik, atau kemampuan dapat menikmati hak atas pendidikan yang bermutu dan setara.
“Dengan komitmen dan kerja sama semua pihak, terutama para kepala sekolah sebagai garda terdepan pendidikan, Kabupaten Gunung Mas siap menjadi pionir dalam pelaksanaan pendidikan inklusif di Kalimantan Tengah,” tutup nya. (ale)












