SAMPIT – Anggota Komisi III DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), SP Lumban Gaol, menyoroti kesiapan pemerintah daerah dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yanh merupakan bencana tahunan, seharusnya sudah diantisipasi dengan lebih matang.
“Selama satu minggu terakhir suhu udara terus meningkat. Cuaca panas ekstrem sangat memungkinkan terjadinya karhutla di berbagai titik. Ini harus menjadi perhatian serius, bukan hanya BPBD, tapi seluruh jajaran pemerintah daerah,” tegas politisi Demokrat tersebut, Sabtu 2 Agustus 2025.
Ia mendesak BPBD Kotim segera melakukan pemetaan terhadap wilayah rawan karhutla dan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan pembukaan lahan.
“Masyarakat yang membersihkan lahan harus diberi peringatan keras agar tidak membakar, karena ini menjadi penyebab utama karhutla, karena memang sengaja membakar saat kemarau,” katanya.
Selain itu, Gaol juga menekankan pentingnya kesiapan peralatan pemadaman. Ia mengingatkan agar kejadian seperti peralatan rusak saat hendak digunakan tidak terjadi.
“Kendaraan, selang, mesin pompa, semuanya harus dalam kondisi siap pakai. Jangan sampai saat kejadian, justru rusak dan menunggu perbaikan dulu,” ujarnya.
DPRD juga mengimbau masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, menahan diri untuk tidak membakar lahan, dan saling mengingatkan sesama warga agar tidak terjadi karhutla.
Koordinasi lintas sektor juga menjadi perhatian. Ia meminta agar BPBD tidak berjalan sendiri, tetapi aktif berkoordinasi dengan tim gabungan penanganan karhutla yang melibatkan berbagai instansi.
“Jangan sampai karhutla dianggap sepele. Tiap tahun selalu terjadi, seharusnya menjadi bahan evaluasi dan pembenahan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Kotim Multazam menyampaikan bahwa hingga saat ini penanganan karhutla masih terkendali karena sifatnya kejadian tunggal. Namun ia tak menampik potensi kesulitan jika kebakaran terjadi serentak di beberapa lokasi.
“Kami masih bisa tangani karena kejadian saat ini bersifat tunggal. Tapi kalau karhutla terjadi bersamaan di banyak titik, tentu akan sulit diatasi,” ujarnya.
Sejumlah kejadian karhutla dalam sepekan belakangan mulai dari Kelurahan Baamang Barat, kemudian di Mentawa Baru Ketapang lahan di lingkar selatan, Jalan Jaksa Agung Soeprapto, hingga wilayah Parenggean.
(Nardi)












