SAMPIT – Gelombang keresahan melanda pedagang Pasar Keramat, Sampit. Setelah heboh dengan aksi penertiban yang dinilai sepihak oleh pemerintah daerah, kini muncul masalah baru yang tak kalah memusingkan: praktik pungutan liar (pungli) yang mengatasnamakan pengurus dan bahkan pemerintah Kotawaringin Timur (Kotim).
Para pedagang mengaku semakin tertekan. Bukannya lega setelah relokasi, mereka justru dihantui oknum-oknum tak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi.
SR, pedagang yang telah puluhan tahun mencari nafkah di pasar tersebut, mengaku omzetnya turun hingga 50 persen sejak penertiban.
“Gara-gara penertiban yang dilakukan oleh pemerintah penjualan kami menurun hingga 50 persen,” kata SR pada Selasa 5 Agustus 2025.
Selain penjualan yang menurun dirinya juga mengeluh karena saat ini banyak pungutan yang mengatasnamakan pengurus pasar dan pemerintah.
“Sudah jualan banyak tidak laku, pungutan makin banyak tiap hari pasti ada aja,” keluhnya.
Dirinya juga mempertanyakan uang yang dikutip oleh oknum-oknum tersebut untuk apa dan dilarikan kemana. Setiap hari ada yang mengutip, ada juga yang seminggu sekali dan sebulan sekali.
“Tiap hari ada yang datang minta uang kebersihan, keamanan apalah lagi. Ada yang seminggu sekali ada juga yang sebulan sekali, dikemanakan duitnya,” pungkas SR.
(Utomo)












