SAMPIT – Hujan yang mengguyur Sampit pada Sabtu 9 dan Minggu 10 Agustus 2025, menjadi pengingat bahwa kemarau tahun ini tidak sepenuhnya kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena ini sebagai kemarau basah, yakni hujan yang masih turun secara berkala meski musim kemarau sedang berlangsung.
Kepala Stasiun BMKG H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo menjelaskan kondisi tersebut dipicu oleh faktor atmosfer, suhu muka laut yang hangat, serta kelembaban udara yang tinggi sehingga awan hujan masih mudah terbentuk.
“Pertemuan massa udara basah dan anomali suhu muka laut yang lebih hangat membuat hujan tetap berpotensi turun di tengah musim kemarau,” ujarnya, Minggu 10 Agustus 2025.
Prakiraan BMKG pada Minggu 10 Agustus 2025 menunjukkan potensi hujan ringan di Sampit pada dini hari dan sore, sementara pada jam lainnya cuaca cenderung berawan tebal.
Masyarakat diminta tetap siaga terhadap kemungkinan hujan disertai petir dan angin kencang yang dapat muncul secara lokal. “Perubahan cuaca yang cepat juga berpengaruh pada kesehatan, jadi sebaiknya sediakan jas hujan atau payung saat beraktivitas di luar,” kata Mulyono.
Ia juga menyebutkan, hujan yang terjadi belakangan ini turut dipengaruhi oleh operasi modifikasi cuaca (OMC) di beberapa wilayah Kalteng. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air dan mengantisipasi kekeringan.
Fenomena kemarau basah diprediksi masih akan terjadi beberapa pekan ke depan. BMKG akan terus memantau perkembangan cuaca dan menyampaikan informasi melalui kanal resmi. (nardi)












