Guru Pelosok Kotim Tempuh Jalur Sungai Demi Mengajar

IST/BERITASAMPIT - Guru SDN 6 Mentaya Seberang di Ganepo.

SAMPIT – Belakangan kisah perjuangan guru SDN 6 Mentaya Seberang, Ganepo, Kecamatan Seranau, Kabupaten (Kotim), menjadi perhatian publik setelah video perjalanan mereka menuju sekolah diunggah melalui media sosial.

Dalam video itu, salah satu guru, Rabiyatul Dwi Andita, menyampaikan rasa kecewa atas pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang sempat menyebut guru seakan menjadi beban negara. Padahal, realita di lapangan menunjukkan betapa besar pengorbanan yang mereka lakukan demi anak didik.

Setiap hari, para guru harus menempuh perjalanan cukup melelahkan. Dari Kota Sampit, mereka membutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan darat, dilanjutkan menyeberangi Sungai Mentaya menggunakan kelotok sekitar 20 menit, lalu berjalan kaki lima menit sebelum tiba di sekolah. Cuaca buruk, terutama saat hujan deras dan angin kencang, sering menjadi kendala.

“Kalau panas ya kepanasan, kalau hujan ya kehujanan. Perahunya kecil tanpa atap, tapi tetap kami jalani karena ini sudah menjadi tanggung jawab kami,” ungkap Dita, Rabu 20 Agustus 2025.

Di sekolah tersebut terdapat delapan guru, sebagian besar tinggal di Kota Sampit. Mereka melayani sekitar 40 murid yang sangat bergantung pada kehadiran para pengajar itu. Jika guru berhalangan hadir, maka kegiatan belajar terpaksa terhenti.

Namun, perjuangan itu tidak sebanding dengan kesejahteraan. Dari delapan guru, hanya satu berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan empat berstatus PPPK. Sisanya masih berstatus honorer dengan penghasilan terbatas. Kondisi ini membuat sebagian guru harus merogoh kantong pribadi untuk biaya transportasi.

“Kalau dihitung-hitung, biaya jauh dari cukup. Mulai dari bensin sampai kebutuhan lain ditanggung sendiri. Tapi tetap kami jalani,” imbuhnya. (nardi)

baca juga ...  Geger !!! Warga Temukan Mayat Tanpa Busana
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!