JAKARTA— Di sebuah masjid di Musi Banyuasin, suara adzan mengalun lembut, menyapa hati setiap jemaah yang hadir. Bukan muadzin biasa, melainkan seorang Kapolres yang melantunkannya dengan penuh khusyuk.
Alamsyah Pelupessy, suara merdunya bukan hanya panggilan ibadah, tetapi juga simbol kedekatan seorang polisi dengan rakyat yang dilayaninya.
Kini, sebagai Komisaris Besar Polisi (Kombes) dan Auditor Kepolisian Madya TK III di Itwasda Polda Metro Jaya, Alamsyah terus menorehkan kisah inspiratif tentang pengabdian, keimanan, dan kepemimpinan yang menggerakkan hati.
Dari Maluku ke Panggilan Pengabdian
Berasal dari desa kecil Siri Sori Islam, Saparua Timur, Maluku, kelahiran 19 Desember 1978, Alamsyah Pelupessy tumbuh dengan nilai-nilai sederhana namun mendalam, keimanan, kedisiplinan, dan semangat untuk mengabdi.
Di tengah keindahan laut dan budaya Maluku yang kaya, ia bermimpi menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Mimpinya itu terwujud ketika ia lulus dari Akademi Kepolisian (Akpol) pada 2001, melangkah sebagai perwira muda dengan hati penuh harapan untuk membawa perubahan.
Menghadapi Badai: Perjuangan di Garis Depan
Karier Alamsyah dimulai dengan langkah berani di medan yang penuh tantangan. Sebagai Kasatgas 2 di Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, ia berhadapan dengan jaringan narkotika yang mengancam masa depan generasi bangsa.
Dengan ketajaman analisis dan keberanian, ia memimpin operasi-operasi berisiko tinggi, menunjukkan bahwa tugas polisi bukan hanya soal hukum, tetapi juga menyelamatkan nyawa.
Pada 2012, Alamsyah dipercaya menjadi Kapolsek Jatiuwung, Kota Tangerang. Di tengah hiruk-pikuk kota industri, ia belajar arti kepemimpinan sejati mendengar keluh kesah warga, menjaga keamanan, dan menjadi jembatan antara hukum dan kemanusiaan.
Pengalamannya bertambah ketika ia menjabat sebagai Kanit I Subdit III Ditresnarkoba Polda Metro Jaya. Di sini, Alamsyah memimpin tim dalam memerangi peredaran narkoba di Jakarta, sebuah misi yang menuntut ketangguhan fisik dan mental.
Memimpin dengan Hati: Kapolres OKI dan Musi Banyuasin
Tahun 2020 membawa Alamsyah ke panggung yang lebih luas sebagai Kapolres Ogan Komering Ilir (OKI), Polda Sumatera Selatan. Di wilayah yang kaya akan budaya dan tantangan, ia memimpin dengan pendekatan yang tegas namun penuh empati.
Ia bukan hanya menegakkan hukum, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat, menunjukkan bahwa polisi adalah sahabat, bukan sekadar penegak aturan.
Puncak keemasan kariernya terjadi saat menjabat sebagai Kapolres Musi Banyuasin (Muba) pada 2021–2022. Di bawah kepemimpinannya, Polres Muba berhasil mengungkap kasus-kasus besar yang mengguncang hati masyarakat, seperti pembunuhan satu keluarga dan pembongkaran 75 lokasi illegal refinery yang merusak lingkungan dan ekonomi lokal.
Namun, yang membuat Alamsyah begitu istimewa adalah caranya menyentuh hati warga. Ia tak ragu melangkah ke masjid, mengumandangkan adzan dengan suara yang menyejukkan, seolah mengingatkan bahwa polisi juga manusia yang beriman dan peduli.
“Ketika Pak Alamsyah adzan, rasanya seperti ada kedamaian yang menyatukan kami,” kenang seorang warga Muba.
Tindakan sederhana ini bukan hanya simbol, tetapi cerminan dari filosofi hidupnya, pengabdian harus lahir dari hati yang tulus.
Kembali ke Ibukota: Strategi, Integritas, dan Amanah
Pada 2022, Alamsyah kembali ke Polda Metro Jaya sebagai Kepala Bagian Bina Operasi (Kabag Bin Ops) Biro Operasional. Di tengah kompleksitas ibu kota, ia merancang strategi keamanan yang menjaga denyut nadi Jakarta tetap aman. Dari pengamanan acara besar hingga penanganan kejahatan perkotaan, Alamsyah menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah tentang ketelitian dan tanggung jawab.
Pada Oktober 2024, Alamsyah mencapai puncak baru dalam kariernya. Ia dipromosikan menjadi Kombes Polisi dan ditugaskan sebagai Auditor Kepolisian Madya TK III di Itwasda Polda Metro Jaya.
Jabatan ini bukan sekadar kenaikan pangkat, tetapi amanah besar untuk menjaga integritas institusi Polri. Sebagai auditor, Alamsyah kini menjadi penjaga kepercayaan, memastikan bahwa setiap langkah kepolisian selaras dengan nilai keadilan dan akuntabilitas.
Filosofi Hidup: Iman sebagai Cahaya Pengabdian
Bagi Alamsyah, pangkat dan jabatan bukanlah tujuan akhir, melainkan tanggung jawab suci. “Iman adalah fondasi saya. Pangkat hanyalah amanah untuk melayani masyarakat dengan kejujuran dan keadilan,” tutur Kombes Alamsyah Pelupessy saat seremoni kenaikan pangkat pada 2024.
Filosofi ini tercermin dalam setiap langkahnya, dari operasi berbahaya di lapangan hingga tugas pengawasan yang menuntut integritas tinggi.
Saat itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya yang dijabat Kombes Ade Ary Syam Indradi menegaskan bahwa kenaikan pangkat Alamsyah adalah cerminan dari dedikasinya yang luar biasa.
“Beliau adalah teladan bagi kami semua, seorang polisi yang melindungi, mengayomi, dan melayani dengan hati,” ujarnya.
Prestasi Alamsyah dari membongkar sindikat kriminal hingga membangun jembatan kepercayaan dengan masyarakat menjadi bukti bahwa pengabdian sejati lahir dari hati yang ikhlas.
Jejak Inspirasi untuk Generasi Mendatang
Dari kampung halaman di Siri Sori Islam Maluku hingga ruang-ruang strategis di Polda Metro Jaya, perjalanan Kombes Pol Alamsyah Pelupessy adalah kisah tentang keberanian, keimanan, dan cinta kepada sesama.
Ia bukan hanya polisi yang menegakkan hukum, tetapi juga manusia yang membawa harmoni melalui adzan merdunya, senyum tulusnya, dan tindakan nyatanya.
Di setiap jabatan yang diembannya, Alamsyah meninggalkan jejak inspirasi bahwa menjadi polisi berarti menjadi pelayan masyarakat, penjaga harapan, dan pembawa cahaya di tengah kegelapan.
Saat ditanya tentang mimpinya ke depan, Alamsyah hanya tersenyum sederhana. “Saya ingin terus melayani, menjaga amanah ini dengan hati. Jika masyarakat merasa aman dan diayomi, itulah kebahagiaan saya.”
Dengan semangat itu, Kombes Pol Alamsyah Pelupessy terus melangkah, menginspirasi generasi polisi dan masyarakat untuk percaya bahwa kebaikan dan keimanan adalah kekuatan sejati dalam pengabdian.
(adista)












