Penulis: Maman Wiharja (Wartawan Senior di Kalteng)
Prof. Dr. Birute Mary Galdikas, sejak tahun 1971 atau selama 54 tahun berhasil melestarikan kehidupan Orangutan yang nyaris punah di Hutan Tanjung Putting, Kalimantan Tengah. Bahkan diusia senjanya, yakni 79 tahun, Prof. Dr. Birute Mary Galdikas sampai sekarang masih aktif perhatiannya terhadap Orangutan bersama ratusan karyawannya.
Jasa Prof. Dr. Birute Mary Galdikas, yang paling krusial yakni Hutan Rimba Tropis Tanjun Puting yang pada awalnya merupakan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa, maka berdasarkan SK Menteri Kehutanan 687/Kpts-II/1996 tanggal 25 Oktober 1996, Tanjung Puting ditunjuk sebagai Taman Nasional dengan luas seluruhnya 415.040 Hektar.
Taman Nasional Tanjung Puting dikukuhkan sebagai Taman Nasional pada tahun 1982. Penetapan ini bertujuan untuk melindungi habitat orangutan dan ekosistem hutan hujan tropis di Kalimantan Tengah, Indonesia. Taman Nasional Tanjung Puting terkenal dengan program konservasi orangutan yang dipelopori oleh Prof. Dr. Birute Mary Galdikas dan sampai sekarang menjadi destinasi penting bagi ekowisata dan penelitian.
Dari sisi obyek wisata, sejak Prof. Dr. Birute Mary Galdikas, berhasil melakukan konservasi orangutan. Taman Nasional Tanjung Putting ( TNTP ), telah menjadi magnet puluhan ribu wisatawan mancanegara. Hal ini terlihat dari puluhan kapal pesiar yang berlabuh di Pelabuhan Panglima Utar-Kumai, termasuk setiap tahun melalui program Wonderful Sail to Indonesia, ratusan “Yachter“, berdatangan ke Tanjung Putting, hanya sekedar ingin melihat Orangutan.
Tanjung Puting memang menjadi destinasi wisata yang sangat populer, terutama karena upaya pelestarian orangutan yang dilakukan oleh Prof. Dr. Birute Mary Galdikas. Beliau telah berkontribusi besar dalam melindungi habitat orangutan dan meningkatkan kesadaran global tentang pentingnya konservasi.
Pengamatan penulis, dengan banyaknya turis dunia yang berkunjung ke Tanjung Puting, baik secara perorangan maupun kelompok melalui kapal pesiar wisata, kontribusi Prof. Birute Mary Galdikas secara tidak langsung membantu meningkatkan devisa bagi Indonesia melalui sektor pariwisata, diantaranya:
- Tanjung Puting menjadi destinasi ekowisata yang populer, menarik wisatawan untuk melihat orangutan dalam habitat alaminya. Telah menjadi magnit bagi puluhan bahkan ratusan ribu turis asing yang berkunjung ke TNTP baik yang menggunakan kapal-kapal pesiar mau perorangan, telah berkontribusi pada pendapatan pariwisata Indonesia, dan umumnya ekonomi kemasyarakatan lokal.
- Konservasi dan Edukasi: Upaya Prof. Birute Mary Galdikas dalam konservasi dan edukasi tentang orangutan meningkatkan reputasi bahwa Indonesia sebagai bukti di dunia adalah negara yang peduli lingkungan.
Pelabuhan Panglima Utar Kumai di Kalimantan Tengah menjadi titik masuk utama bagi wisatawan yang ingin mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting. Puluhan kapal pesiar dunia dari tahun ke tahun yang singgah di pelabuhan Panglima Utar Kumai terus meningkat.
Selain Orangutan yang telah menjadi ‘Mascot', TNTP, juga Trekking dan Hiking: Menjelajahi hutan untuk melihat orangutan dan satwa lainnya. River Cruise: Menyusuri Sungai Sekonyer untuk mengamati kehidupan satwa liar. Mengunjungi Camp Leakey: Pusat penelitian orangutan yang dikelola oleh para ahli. Pondok Tanggui Feeding Station: Melihat proses pemberian makan kepada orangutan.
Upaya Prof. Birute Mary Galdikas telah membuat Tanjung Puting menjadi magnet bagi wisatawan dan peneliti, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan dan satwa liar.
Pada saat Presiden Prabowo, memberikan anugerah tanda jasa dan kehormatan kepada 141 tokoh di Indonesia, pengamatan penulis sangat disayangkan nama Prof. Dr.Birute Mary Galdikas, tidak tercantum pada deretan 141 nama tokoh. Namun sebelumnya berkat jasa-jasanya, beliau telah mendapat penghargaan yang paling menonjol antara lain:
- Tyler Prize for Environmental Achievement (1997) untuk penelitian lapangan dan kontribusi seumur hidupnya terhadap kemajuan ilmu lingkungan
- Penghargaan Kalpataru dari Presiden Soeharto cq Pemerintah Indonesia untuk usahanya di bidang pelestarian alam.
- Global 500 Award dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (1993).
- Hero of the Earth (1991)
- PETA Humanitarian Award (1990)
- Sierra Club Chico Mendes Award (1992)
- Kunci Kota Las Vegas (2009) saat ia memberikan presentasi untuk departemen antropologi di UNLV.(*)Â












