PULANG PISAU – Wakil Bupati Pulang Pisau H. Ahmad Jayadikarta mengusulkan langkah inovatif dalam upaya menekan angka stunting. Ia menilai keterlibatan dunia usaha melalui Corporate Social Responsibility (CSR) serta dukungan perguruan tinggi akan memperkuat gerakan bersama yang kini terus digencarkan pemerintah daerah.
Jayadikarta menegaskan, penanganan stunting bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh pihak. Ia pun berencana meminta izin kepada Bupati Ahmad Rifa'i agar perusahaan yang beroperasi di Pulang Pisau bisa diarahkan ikut menyokong program bapak asuh anak stunting.
“Jika CSR perusahaan dapat kita sinergikan, saya yakin hasilnya akan lebih signifikan. Nantinya kontribusi itu bisa diarahkan untuk memperkuat program bapak asuh dan pendampingan langsung kepada anak-anak yang berisiko stunting,” ucap Jayadikarta usai memimpin rapat persiapan Rakor TPPS, Kamis 11 September 2025.
Selain dunia usaha, Pemkab Pulpis juga tengah menyiapkan skema keterlibatan mahasiswa dari berbagai universitas. Para mahasiswa akan dilibatkan dalam pemantauan dan pengumpulan data di lapangan, sehingga intervensi pemerintah bisa lebih tepat sasaran.
Langkah ini, kata Jayadikarta, telah melalui studi banding ke sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Malaysia Sarawak (Unimas) dan Universitas Makassar. “Kerja sama dengan kampus memungkinkan kita mengadopsi sistem pendataan yang lebih modern dan terintegrasi,” jelasnya.
Menurutnya, keberhasilan menurunkan prevalensi stunting sangat ditentukan oleh sinergi lintas sektor. Ia mencontohkan peran nyata yang sudah dilakukan PLTU UP Pulpis, yang konsisten menjalankan program penanganan stunting di wilayah sekitar perusahaan.
“Keterlibatan perusahaan seperti PLTU menjadi bukti bahwa kontribusi swasta sangat mungkin memberikan dampak langsung. Jika semakin banyak yang bergerak, maka program pemerintah akan lebih cepat terwujud,” tegasnya.
Jayadikarta optimistis, dengan kerja sama multipihak, penanganan stunting di Pulang Pisau akan berjalan lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan. “Kuncinya kolaborasi. Tanpa itu, hasilnya tidak akan maksimal,” pungkasnya. (ds)












