KUALA KAPUAS – Lonjakan harga bawang merah dan sigaret kretek mesin (SKM) tercatat sebagai penyumbang terbesar inflasi di Kabupaten Kapuas pada Agustus 2025. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah melakukan berbagai upaya pengendalian, termasuk pemantauan harga harian hingga pengembangan lumbung pangan.
Data inflasi menunjukkan, bawang merah memberi andil 0,65 persen, SKM 0,29 persen, kopi bubuk 0,24 persen, emas perhiasan 0,23 persen, dan mi instan 0,18 persen terhadap laju inflasi di Kapuas. Sebaliknya, beberapa komoditas justru menekan inflasi atau mencatat deflasi, seperti ikan gabus 0,47 persen, cabai rawit 0,32 persen, tomat 0,11 persen, terong 0,09 persen, dan bayam 0,06 persen.
“Pemerintah daerah terus memantau perkembangan harga, baik di ibu kota Kabupaten Kapuas maupun 17 kecamatan lain, melalui petugas enumerator yang setiap hari melaporkan kondisi di lapangan,” ungkap Staf Ahli Bupati Kapuas Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pemerintahan, Septedy usai mengikuti Rakor Pengendalian Inflasi bersama Mendagri Tito Karnavian, Selasa 16 September 2025.
Menurutnya, pengendalian harga bukan hanya sekadar memonitor, tetapi juga menyangkut strategi jangka panjang. Karena itu, Pemkab Kapuas melakukan publikasi perkembangan harga melalui media sosial, agar masyarakat mengetahui tren pasar dan bisa menyesuaikan kebutuhan.
Di sisi produksi, pemerintah daerah gencar mendorong pengembangan hortikultura aneka cabai, sekaligus memperkuat ketahanan pangan melalui lumbung pangan berbasis varietas unggul nasional dan lokal, khususnya komoditas padi.“Kita tidak hanya bicara konsumsi, tapi juga produksi yang berkelanjutan,” tambah Septedy.
Rapat Koordinasi Inflasi yang dipimpin Mendagri Tito Karnavian tersebut menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Dalam forum nasional itu juga dibahas evaluasi program 3 juta rumah dan peta jalan pembangunan kependudukan sebagai bagian dari kebijakan strategis menekan inflasi serta menjaga stabilitas ekonomi.
Septedy menyebut, arah kebijakan pemerintah pusat tersebut selaras dengan kebutuhan Kapuas. “Kami di daerah akan terus melakukan langkah-langkah konkret agar harga pangan terkendali, karena inflasi bukan hanya soal angka, tapi langsung berdampak pada daya beli masyarakat,” ujarnya.
Dengan pengendalian yang terukur, Pemkab Kapuas optimistis gejolak harga pangan bisa ditekan. Harapannya, masyarakat tidak hanya mendapat kepastian harga yang lebih stabil, tetapi juga menikmati hasil pembangunan yang lebih merata. (ds)











