SAMPIT – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Umar Kaderi, menyoroti fenomena kesehatan mental di kalangan pelajar. Dari hasil skrining, tercatat sebanyak 48,7 persen anak sekolah mengalami gangguan jiwa yaitu adanya kecemasan. Angka ini terungkap setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan di sekolah-sekolah dan masyarakat umum.
“Ini angka yang cukup tinggi. Gangguan jiwa kini menjadi salah satu dari empat penyakit prioritas yang harus mendapat perhatian, selain TB, HIV/AIDS, dan penyakit lainnya seperti hipertensi, diabetes serta jantung ,” ungkap Umar, Kamis 18 September 2025.
Penyebab gangguan kecemasan pada pelajar belum diketahui secara pasti. Namun, dugaan sementara dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti tekanan di rumah, kondisi ekonomi keluarga, maupun tekanan di sekolah, termasuk kasus bullying.
Meski belum ada kajian mendalam, Dinkes sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk melakukan intervensi dini.
“Kesehatan mental harus dicegah sejak awal, walau hanya berupa gejala kecemasan. Karena data nasional menunjukkan 3,6 persen kasus bunuh diri, sehingga pencegahan sejak dini sangat penting,” tegas Umar.
Ia menambahkan, kegiatan koordinasi lintas sektor menjadi langkah strategis. Acara ini melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD), camat, organisasi profesi, hingga KPAD sebagai leading sektor dalam penanganan kesehatan.
Dari hasil skrining kesehatan masyarakat, penyakit yang dominan ditemukan di Kotim adalah hipertensi, diabetes, dan jantung, angka penderita penyakit tahun 2024 ke 2025 mengalami peningkatan karena jumlah pemeriksaan kesehatan juga meningkat.
“Hasil skrining ini ibarat fenomena gunung es. Banyak penyakit menular maupun tidak menular yang sebenarnya diderita masyarakat Kotim baru terdeteksi. Termasuk HIV/AIDS yang tiap tahun masih tinggi. Dari data itu kita bisa menentukan langkah pencegahan dan penanggulangan ke depan,” jelasnya.
Karena itu Dinkes menargetkan langkah strategis menuju Kotim sehat, kuat, dan cerdas pada tahun 2030 sebagai kewajiban bersama.
Kolaborasi akan terus diperkuat dengan kecamatan, desa, organisasi profesi, hingga perusahaan. “Dengan skrining lebih dini, penyakit bisa segera diobati dan ditangani bersama,” pungkasnya. (nardi)












