PALANGKA RAYA – Upaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) melalui Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispursip) dalam membangun budaya literasi masyarakat menunjukkan hasil menggembirakan.
Berdasarkan hasil pengukuran Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Tahun 2025, Kalteng mencatat skor 72,94 dengan kategori sedang, naik dari capaian tahun sebelumnya sebesar 68,64.
Kepala Dispursip Provinsi Kalteng, Adiah Chandra Sari, menyebut peningkatan tersebut menjadi bukti bahwa program literasi yang dijalankan selama dua tahun terakhir mulai menunjukkan dampak nyata.
Menurutnya, kemajuan ini tidak hanya terlihat di kota besar seperti Palangka Raya, tetapi juga di berbagai kabupaten.
“Peningkatan nilai IPLM tahun ini merupakan hasil kerja bersama seluruh pihak. Kami terus berupaya memastikan literasi tidak hanya berkembang di pusat kota, tetapi juga menjangkau desa–desa dan wilayah pelosok,” ujar Adiah, dalam keterangannya, Minggu, 19 Oktober 2025.
Laporan Dispursip menunjukkan, sejumlah kabupaten di Kalteng mencatat capaian literasi yang sangat baik. Kabupaten Barito Selatan, Lamandau, Sukamara, dan Seruyan termasuk dalam kategori tinggi dengan skor di atas 80.
Keberhasilan tersebut, kata Adiah, tidak lepas dari strategi kolaboratif antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat lokal. “Kabupaten-kabupaten ini aktif menggelar kegiatan membaca bersama, lomba literasi, hingga festival buku yang berdampak luas pada masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, beberapa wilayah dengan capaian masih dalam kategori sedang, seperti Kapuas, Kotawaringin Timur, dan Barito Timur, akan mendapatkan perhatian khusus melalui program pendampingan literasi yang lebih adaptif dan berbasis kebutuhan masyarakat setempat.
Dispursip Kalteng kini menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mempercepat pemerataan literasi di tahun mendatang. Salah satunya adalah melalui penguatan akses digital dengan memperluas jaringan perpustakaan berbasis daring yang memungkinkan masyarakat membaca buku elektronik (e-book) dari mana saja.
Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong pengembangan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di tingkat kelurahan dan desa serta memperkuat kemitraan dengan komunitas literasi dan perguruan tinggi.
“Kami tidak hanya berbicara tentang peningkatan angka, tapi bagaimana literasi bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Digitalisasi dan kolaborasi adalah kunci pemerataan akses bacaan di Kalimantan Tengah,” tambah Adiah.
Lebih lanjut, Adiah menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi secara cerdas.
“Tujuan akhir dari pembangunan literasi adalah menciptakan masyarakat yang berpikir kritis, produktif, dan berdaya saing tinggi. Itulah mengapa peningkatan IPLM menjadi indikator penting dalam mendukung visi pembangunan sumber daya manusia yang unggul,” pungkasnya.
(Sya'ban)












