SAMPIT – Penolakan terhadap rencana penyelenggaraan event balapan motor di kawasan Taman Kota Sampit terus bergulir. Kali ini datang dari Eka Sazli, pengamat kebijakan publik, ekonomi, dan demokrasi, serta Kherli, pengurus Komunitas Peduli Kotawaringin Timur (KPK). Keduanya menilai event tersebut sudah tidak relevan lagi dilaksanakan di ruang publik dan sebaiknya dibatalkan.
Eka Sazli menegaskan, Taman Kota Sampit sudah sejak lama menjadi lokasi pelaksanaan berbagai ajang balap, namun kondisi saat ini sudah tidak mendukung lagi.
“Sudah tidak relevan lagi event balap motor digelar di area Taman Kota Sampit. Sejak dulu taman ini sering jadi sasaran EO motor prix, sebaiknya sekarang dialihkan ke sirkuit yang sudah dimiliki pemerintah daerah. Gunakan fasilitas yang ada,” ujarnya, Senin 10 November 2025.
Menurutnya, taman kota sudah berfungsi sebagai ruang publik untuk masyarakat berolahraga dan berkegiatan setiap akhir pekan, termasuk agenda rutin Car Free Day (CFD) yang digagas pemerintah daerah.
“Bayangkan kekecewaan masyarakat jika Car Free Day ditiadakan karena digunakan untuk balapan. Belum lagi terganggunya rumah sakit terapung dan kenyamanan jemaat gereja yang sedang beribadah,” tegas Eka.
Ia menilai pemerintah seharusnya lebih mengutamakan kepentingan umum dan menjaga toleransi antarumat beragama.
“Kita harus lebih mengedepankan kepentingan orang banyak serta menjaga saudara-saudara kita umat Kristiani agar bisa beribadah dengan tenang dan khidmat,” tambahnya.
Sementara itu, Kherli, pengurus KPK, juga menyatakan dukungan penuh terhadap penolakan yang disampaikan Ketua Aliansi Pemuda Kotim sebelumnya. Ia menilai Taman Kota Sampit tidak layak dijadikan lokasi event balapan karena sudah ada sirkuit yang semestinya difungsikan.
“Saya sangat setuju dengan penolakan dari Ketua Aliansi Pemuda Kotim. Pemerintah sebaiknya membatalkan event balapan di taman kota. Kalau mau menggelar balapan, selesaikan dulu masalah sirkuit yang mangkrak bertahun-tahun itu. Karena itu uang rakyat, bukan uang pribadi,” tegasnya.
Kherli juga menilai, penggunaan taman kota untuk event besar akan mengganggu kenyamanan masyarakat yang berolahraga dan beristirahat.
“Taman kota itu ruang publik, tempat warga olahraga dan bersantai. Kalau dipakai balapan, pasti ketentraman warga terganggu, apalagi di situ ada rumah sakit swasta. Aktivitas rumah sakit jelas akan terdampak,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah lebih serius menuntaskan pembangunan Sirkuit Sahati yang hingga kini mangkrak tanpa kejelasan.
“Sebelum ada sirkuit yang benar-benar siap digunakan, sebaiknya jangan dulu menggelar event balapan di ruang publik. Selesaikan dulu fasilitas yang memang dibangun untuk itu,” tutupnya. (Nardi)












