PALANGKA RAYA – Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Herson B. Aden, menegaskan pentingnya transformasi ekonomi daerah menuju arah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Ia menyebut, pembangunan ekonomi Kalteng tidak lagi cukup bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam, melainkan harus bergerak ke arah green economy atau ekonomi hijau.
Hal itu disampaikannya saat membuka Rapat Konsultasi Regional Produk Domestik Regional Bruto (Rakonreg PDRB) Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2025, yang digelar di Aula Bapperida Provinsi Kalteng, Selasa, 11 November 2025.
“Transformasi menuju ekonomi hijau adalah keharusan, bukan pilihan. Dengan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah, kita tidak hanya memperkuat ekonomi daerah, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan menjaga lingkungan,” tegas Herson.
Menurut Herson, struktur ekonomi Kalimantan Tengah hingga kini masih didominasi oleh sektor sumber daya alam (brown economy), seperti pertambangan dan industri berbasis bahan mentah. Kondisi ini membuat daerah rentan terhadap fluktuasi harga global dan berdampak terhadap daya saing jangka panjang.
Untuk itu, pemerintah provinsi mendorong diversifikasi dan hilirisasi sektor ekonomi di seluruh kabupaten dan kota, khususnya melalui penguatan sektor pertanian, industri pengolahan, UMKM, dan perdagangan rakyat.
Selain itu, pengembangan infrastruktur dasar, konektivitas antarwilayah, serta pembentukan kawasan ekonomi terpadu juga menjadi prioritas dalam mendukung pertumbuhan ekonomi hijau yang inklusif.
“Kita harus mulai membangun ekonomi yang berorientasi nilai tambah. Tidak cukup menjadi produsen bahan mentah, tetapi menjadi daerah yang mampu mengolah dan menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi,” jelasnya.
Herson memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah terus menunjukkan tren positif dalam tiga tahun terakhir. Perekonomian daerah tumbuh 4,14 persen pada 2023, meningkat menjadi 4,46 persen pada 2024, dan mencapai 5,36 persen (year-on-year) pada triwulan III tahun 2025.
Pemerintah pusat menargetkan ekonomi Kalteng tumbuh 5,60 persen pada 2025, naik menjadi 6,03 persen pada 2026, dan mencapai 7,3 persen pada 2029, sebagai bagian dari kontribusi terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar delapan persen.
“Capaian ini harus menjadi pemicu untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah yang lebih tangguh, hijau, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Herson menekankan perlunya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, terutama dalam menyelaraskan kebijakan fiskal dan efisiensi anggaran.
Ia mengingatkan agar kebijakan ekonomi daerah tetap berpijak pada kemampuan fiskal tanpa mengurangi efektivitas pembangunan.
Herson juga meminta percepatan pembentukan Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (PPED) di sejumlah kabupaten yang belum membentuk, seperti Barito Utara, Katingan, Lamandau, Pulang Pisau, dan Seruyan.
“Langkah konkret percepatan pertumbuhan ekonomi daerah harus segera disiapkan dan dilaporkan ke Kementerian Dalam Negeri melalui laman kendaliekonomi.kemendagri.go.id,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Herson mengajak seluruh pihak untuk memperkuat koordinasi lintas sektor dan mempercepat implementasi program pembangunan ekonomi hijau di Kalimantan Tengah. Ia berharap, sinergi antarinstansi dapat mendorong pemerataan kesejahteraan dan menekan kesenjangan sosial.
“Forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi dan memastikan pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Tengah benar-benar memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat,” tutupnya.
(Sya'ban)












