PALANGKA RAYA – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Kali ini, temuan ulat pada salah satu menu MBG di MTsN 1 Palangka Raya pada Rabu, 12 November 2025, memicu reaksi keras dari DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng).
Ketua Komisi III DPRD Kalteng, Sugiyarto, menilai insiden tersebut sebagai bukti lemahnya kontrol kualitas penyedia makanan. Ia mendesak Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jalan Ponegoro segera melakukan evaluasi total, terutama pada standar kebersihan dapur dan alat pengolahan.
“Jadi intinya, kalau MBG sesuai dengan ketentuan dari BGN pusat, semuanya harus melalui mekanisme terkait dengan kesehatannya. Omprengnya harus kering, bahkan harus dikeringkan melalui alat yang steril,” ujarnya, Jum'at,14 November 2025.
Menurut dia, jika fasilitas pendukung seperti alat sterilisasi belum tersedia di dapur penyedia, maka pemerintah provinsi bersama dinas kesehatan harus segera melakukan pengecekan.
“Mungkin sekarang belum. Kalau pun itu belum disediakan oleh dapur, supaya segera pemerintah provinsi yang mewakili harus mengecek itu bersama-sama dengan dinas kesehatan,” kata Sugiyarto.
Ia juga mengungkapkan masih lemahnya koordinasi antara penyelenggara MBG dan dinas kesehatan. “Saya kemarin sempat tanya dengan dinas kesehatan terkait MBG ini bagaimana koordinasinya. Sampai sekarang masih minta izin ini itu, saya sampaikan ke Pak Kadis harus ada surat dari dinas,” ujarnya.
Sugiyarto menyampaikan bahwa berdasarkan informasi dari Kepala Dinas Kesehatan, seluruh dinas kabupaten/kota diminta tegas dalam memberikan izin bagi SPPG.
“Informasi Pak Kadis, semua dinas kabupaten/kota ini konsisten. Pokoknya kalau tidak sesuai, tidak diberikan izin,” ucapnya.
Ia menegaskan, setiap persyaratan yang berkaitan dengan operasional SPPG harus segera ditindaklanjuti oleh pihak terkait.
“Jadi intinya, kalau ada hal-hal yang terkait dengan persyaratan yang ada di SPPG ini harus segera ditindaklanjuti,” kata Sugiyarto.
Sebelumnya, Kepala MTsN 1 Palangka Raya, Rita Sukaesih, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menyebut peristiwa itu dilaporkan oleh seorang siswa kepada guru
ketika melihat ulat di menu MBG. Rita mengatakan tidak mengetahui apakah menu MBG yang terdapat ulat itu juga ditemukan pada siswa lain.
“Kejadian Rabu siang, setelah selesai makan ada anak yang melaporkan ke guru satu orang. Saya tidak tahu kalau yang lain juga ada (makanan berulat). Yang jelas yang melaporkan ke kami hanya satu. Mungkin anak-anak (yang lain) enggak melapor ke guru,” ujar Rita saat ditemui di ruangannya, Kamis, 13 November 2025.
Menurut Rita, ulat ditemukan pada lauk berupa ikan teri yang dicampur kacang.
Ketika ditanya apakah siswa sempat menyantap makanan tersebut, Rita menjelaskan bahwa siswa yang melapor tidak sempat memakannya.
“Kebetulan yang ada laporan satu itu tidak disantap. Kan pas melihat ada ulat ya enggak disantap,” katanya.
Ia juga memastikan tidak ada laporan siswa yang mengalami gangguan kesehatan setelah makan MBG. “Enggak ada sih yang laporan sakit gara-gara makan MBG, tidak ada,” ujarnya.
Rita menilai, ulat yang ditemukan kemungkinan bukan jenis beracun sehingga ia tidak langsung bereaksi berlebihan.
“Kalau menurut saya sih ulat itu bukan ulat beracun, makanya saya tidak heboh-heboh. Saya jujur aja, kalau makanan MBG terjadi masalah bagi saya, saya yang paling duluan heboh. Misalnya rusak, basi, atau apa, bahkan kalau misalnya mereka (SPPG) terlambat mengantar itu mengganggu pembelajaran kami,” ucapnya.
Rita berharap pihak penyedia makanan, yaitu SPPG, lebih berhati-hati dalam proses pengolahan dan pembersihan bahan makanan.
“Harapan kami untuk ke depannya itu pihak SPPG harus hati-hati. Karena kalau ada ulat itu artinya mungkin pada saat mereka membersihkan dan lainnya berarti kurang hati-hati,” ujar dia.
Rita menegaskan pentingnya ketelitian terutama saat mencuci sayur-sayuran agar makanan yang disajikan benar-benar bersih.
“Saya berharap sekali kepada pihak SPPG agar dalam mereka memasak, mengelola MBG ini betul-betul harus teliti, terutama dari sayur-sayuran. Saat mereka mencuci benar-benar melihat, bukan hanya sekadar,” katanya.
“Pada saat mereka memasak juga dilihat, kan enggak tahu yang namanya mungkin ada binatang. Mending kalau serangga, kalau misalnya cicak itu berbahaya sekali dan itu tidak bagus untuk anak-anak kalau dimakan,” lanjut Rita.
(Syauqi)












