SAMPIT – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) ditetapkan sebagai daerah dengan jumlah penderita Diabetes Melitus (DM) tertinggi di Kalimantan Tengah. Berdasarkan pendataan melalui Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK), total 3.504 warga telah teridentifikasi mengidap diabetes. Temuan ini sekaligus menegaskan meningkatnya beban penyakit tidak menular di daerah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kotim Umar Kaderi menjelaskan bahwa angka tersebut berada dalam proyeksi nasional.
Kementerian Kesehatan memperkirakan jumlah penyandang diabetes di Kotim pada 2025 dapat mencapai 4.724 orang. Dengan jumlah kasus yang kini terdata, tren peningkatan mulai mendekati prediksi yang dibuat pemerintah pusat.
“Tingginya jumlah temuan bukan sepenuhnya karena lonjakan kasus baru, melainkan hasil dari upaya skrining yang semakin masif oleh Puskesmas,” kata Umar, Selasa 25 November 2025.
Pendataan di ASIK disebut semakin akurat karena fasilitas kesehatan kini aktif melakukan pemeriksaan rutin dan pelaporan berbasis aplikasi.
Umar menyebutkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan turut memengaruhi tingginya angka temuan.
Lebih banyak warga yang menjalani pengecekan rutin dan menyadari gejala dini diabetes, sehingga jumlah penderita yang teridentifikasi semakin meningkat. Kondisi ini dinilai positif karena deteksi dini akan memudahkan proses penanganan. Selain skrining Puskesmas, kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar di berbagai komunitas juga berkontribusi besar.
Program tersebut menjaring warga dengan risiko tinggi maupun pasien yang sebelumnya tidak mengetahui kondisi kesehatannya. Melalui pendekatan langsung ke komunitas, banyak kasus baru berhasil ditemukan.
Faktor pemicu diabetes seperti konsumsi tinggi gula, kurang aktivitas fisik, obesitas, tekanan darah tinggi, hingga riwayat keturunan menjadi fokus perhatian Dinkes.
Dinkes menilai beberapa kebiasaan masyarakat sehari-hari tanpa disadari turut memperbesar peluang terserang diabetes, terutama di usia produktif.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diminta menjaga pola makan, rutin beraktivitas fisik, mengurangi makanan manis, cukup tidur, dan mengelola stres. Pemeriksaan mandiri juga dianjurkan dilakukan secara berkala agar gangguan kesehatan dapat terdeteksi sejak dini. (nardi)












