SAMPIT – Capaian partisipasi masyarakat dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) hingga Sabtu 29 November 2025 kembali menunjukkan hasil menggembirakan.
Dinas Kesehatan Kotim mencatat angka partisipasi telah menembus 38 persen, lebih tinggi dari target nasional yang dipatok sebesar 36 persen untuk 2025.
Kepala Dinas Kesehatan Kotim, Umar Kaderi, mengapresiasi antusiasme masyarakat yang terus meningkat. Umar menegaskan, lonjakan partisipasi ini diraih setelah melewati proses panjang sejak awal program diperkenalkan, ketika minat masyarakat masih rendah akibat kurangnya informasi terkait program nasional tersebut.
Upaya sosialisasi dan pendekatan jemput bola yang dilakukan Dinkes bersama puskesmas menjadi kunci meningkatnya kesadaran warga. Warga kini memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan sebagai deteksi dini untuk mencegah penyakit berkembang lebih parah.
“Pencapaian 38 persen ini menunjukkan respon masyarakat yang luar biasa,” ujar Umar yang juga menjabat sebagai Pj Sekda Kotim.
Selain sebagai layanan kesehatan gratis, program CKG juga dimanfaatkan Dinkes sebagai bahan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi kesehatan masyarakat.
Data yang terkumpul digunakan untuk memetakan potensi penyakit di wilayah Kotim, sekaligus menjadi dasar untuk memperbaiki fasilitas kesehatan, mulai dari ketersediaan SDM, peralatan kesehatan hingga obat-obatan di seluruh puskesmas.
Meski target nasional telah berhasil dilewati, Umar menegaskan program ini tidak akan dihentikan. Menurutnya, CKG menjadi instrumen penting dalam menangani berbagai penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes, juga penyakit menular seperti TBC. Bahkan layanan yang disediakan kini semakin lengkap, termasuk konsultasi psikologi dan gizi.
CKG juga rutin digelar di berbagai kegiatan masyarakat, salah satunya pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-54 KORPRI di sekitar Bandara Haji Asan Sampit. Langkah ini dilakukan agar lebih banyak warga dapat terjangkau tanpa harus mendatangi fasilitas kesehatan.
Umar menyoroti masih banyaknya gejala penyakit yang kerap diabaikan masyarakat, mulai dari kurang tidur yang memicu stres hingga pola makan tak seimbang. Melalui CKG, ia berharap warga dapat mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini sehingga tindakan medis dapat dilakukan lebih cepat.
“Saya tidak ingin mendengar lagi ada warga yang baru mengetahui penyakit jantung ketika sudah berhenti napas atau gejala lain yang terlambat disadari. CKG ini untuk promotif dan preventif, bukan sekadar mengejar target,” tegas Umar Kaderi. (nardi)












