Jembatan Gantung Tanjung Jariangau di Ambang Runtuh Tiga Dekade Jadi Nadi Warga, Kini Menanti Uluran Pemerintah

UTOMO/BERITA SAMPIT - Warga saat melakukan perawatan penggantian lantai jembatan.

SAMPIT – Di balik heningnya hutan Mentaya Hulu, sebuah jembatan gantung tua yang menjadi satu-satunya akses ratusan warga Tanjung Jariangau kini menggantung di ambang bahaya. Struktur berusia 31 tahun itu seolah menanti waktu, sementara setiap hari tetap dipaksa menanggung beban hidup masyarakat yang tak punya pilihan lain.

Dibangun pada 1994 silam, jembatan ini tak pernah mendapat peremajaan besar. Akibatnya, kondisinya kini nyaris roboh. Lantai kayunya lapuk dan patah di banyak titik, bahkan beberapa papan hilang hingga menyisakan lubang menganga yang dapat menjerumuskan kaki siapa saja yang melintas.

Di sisi lain, rangka besi tampak memutih diselimuti karat, sementara kabel penahan beban telah mengendur. Jembatan yang dulu kokoh ini kini bergoyang liar setiap kali dilewati, bak ayunan raksasa yang tak lagi jinak.

“Ini seperti bermain dengan nyawa setiap kali menyeberang, terutama jika membawa beban atau naik sepeda motor. Kami terpaksa memakainya karena tidak ada alternatif jalan lain untuk ke kebun, sekolah, atau ke mesjid,” keluh Donal salah satu pemuda di itu.

Jembatan ini bukan sekadar akses, melainkan urat nadi perekonomian warga. Petani, pedagang, dan anak-anak sekolah bergantung padanya. Terlebih ketika hari jumat dimana warga menggunakan jembatan tersebut untuk menuju mesjid yang ada di seberang.

“Jika sudah jumat orang berangkat sholat itu yang bahaya, banyak yang melalui. Sama seperti mau runtuh,” kata Dabeh yang juga merupakan salah seorang warga.

Menurutnya, biaya untuk rehabilitasi total jembatan dengan standar keamanan yang memadai sangat besar, melampaui kemampuan anggaran maupun kecamatan. Diperlukan intervensi dan anggaran khusus dari Pemerintah Kabupaten Kotim atau bahkan provinsi.

Ia menambahkan jika selama ini telah melakukan perawatan untuk jembatan tersebut namun jika tidak dilakukan rehabilitasi total maka kondisinya akan terus mengkhawatirkan.

“Jika hanya perawatan kecil-kecilan maka akan terus menghkawatirkan, harus direhabilitasi total,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Tanjung Jariangau, Al Irsyad melalui Sekertaris , Hamli saat dikonfirmasi membenarkan hal itu dan mengatakan pihaknya berencana untuk membahas masalah ini ke tingkat kabupaten.

“Dari ada perawatan tapi kalo rehabilitasi total tidak mampu, rencana akan kami bahas di tingkat kabupaten karena dulu di SK kan hibah jadi aset ,” ujarnya.

Jembatan berusia 31 tahun itu tak lagi sekadar menyambung dua tebing, tapi juga menyangga harapan warga akan keberpihakan negara terhadap keselamatan mereka.

“Kami hanya ingin menyeberang dengan aman. Tidak lebih. Apakah harus ada korban dulu baru jembatan ini diperbaiki?” tanya seorang ibu yang anaknya harus melewati jembatan itu untuk bersekolah.

Warga Tanjung Jariangau pun berharap, agar jembatan yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup mereka selama tiga dekade ini segera mendapatkan kehidupan baru, sebelum segalanya terlambat.

(Utomo)

baca juga ...  Anggota Komisi II Ini Soroti Proyek Pasar Expo
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!