SAMPIT – Permasalahan sampah kembali menjadi sorotan menjelang musim libur panjang di Pantai Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim).
Wakil Ketua II DPRD Kotim Rudianur mengingatkan bahwa setiap tahun volume sampah di kawasan tersebut melonjak tajam usai libur akhir tahun.
Menurut politisi Golkar ini persoalan sampah di pantai itu bukan hal baru. Hingga kini tidak ada tim khusus yang menangani kebersihan, sementara sistem pengelolaannya pun tidak jelas, termasuk alur retribusi parkir dari pengelola objek wisata.
“Sampah ini kayaknya jadi budaya, apalagi di Ujung Pandaran itu tidak ada tim khusus yang menangani sampah dan sistem pengelolaannya juga tidak jelas,” kata Rudianur, Jumat 5 Desember 2025.
Ia menyebut pemerintah seolah melepas tangan dalam pengelolaan kebersihan pantai. Padahal, potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari kawasan wisata tersebut cukup besar setiap tahunnya.
“Banyak potensi PAD di sana kalau saya lihat. Jadi jangan sampai PAD ini terbuang sia-sia. Saat situasi efisiensi anggaran seperti sekarang, hal-hal seperti ini harus dikejar dan ditertibkan,” tegasnya.
Rudianur menegaskan bahwa ketidakjelasan retribusi dan minimnya pengelolaan membuat pemerintah justru menjadi pihak yang disalahkan ketika pantai terlihat kotor dan tidak terurus.
“Padahal bila potensi PAD dimaksimalkan, kawasan wisata itu bisa menjadi jauh lebih baik,” ungkap Dewan Dapil 3 Kotim ini.
Sebagai solusi jangka panjang pemerintah bisa membangun depo sampah sehingga masyarakat tak membuang sembarangan.
Dirinya juga berpesan kepada masyarakat agar bisa menjaga kebersihan lingkungan saat bepergian liburan bersama keluarga dan menikmati keindahan pantai Ujung Pandaran agar tetap bersih. (nardi)












