Banjir Terjang Utara Kotim, Warga Bertanya: Korban Cuaca atau Akibat Hilangnya Hutan?

IST/BERITASAMPIT - Banjir yang melanda wilayah Utara Kotim.

SAMPIT – Banjir besar yang melanda wilayah utara Kabupaten Timur (Kotim) pada 3–5 Desember 2025 kembali memicu kekhawatiran publik. Genangan yang merendam sejumlah selama tiga hari berturut-turut membuat masyarakat mempertanyakan penyebab utamanya apakah murni faktor cuaca atau dampak dari masifnya pembabatan hutan di kawasan hulu.

Sejumlah di Kecamatan Tualan Hulu seperti Rantau Suang, Tumbang Mujam, Merah, hingga Luwuk Sampun terendam cukup parah. Di beberapa titik, tinggi air mencapai dada orang dewasa dan memutus akses utama , memaksa warga bertahan di rumah sambil menanti bantuan.

Kepala BPBD Kotim Multazam sebelumnya menyampaikan bahwa di Tumbang Mujam, kondisi air sempat terpantau turun berdasarkan patok banjir BPBD. Namun di wilayah lain seperti Luwuk Sampun, ketinggian air justru meningkat dan merendam sekitar 300 hingga 350 meter jalan poros .

Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah bantaran sungai. Warga yang bermukim di tepian Sungai Tualan terdampak langsung akibat luapan air yang semakin besar.

“Sekitar 50 rumah terdampak banjir di Luwuk Sampun dan BPBD membantu warga melintas menggunakan perahu karet,” ungkap Multazam.

BPBD Kotim saat ini turun ke lokasi melakukan pemantauan dan melihat situasi terkini terkena banjir.

Salah satu warga Kotim Rizal menilai deretan kejadian itu memunculkan kekhawatiran masyarakat bahwa kerusakan lingkungan, khususnya hilangnya tutupan hutan di hulu, berperan besar dalam memperparah banjir.

“Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas pembukaan lahan dinilai cukup masif dan diduga mengurangi kemampuan tanah menyerap air,” ungkapnya.

Sebelumnnya Ketua DPRD Kotim Rimbun menegaskan bahwa pemerintah harus berhenti mengeluarkan izin baru untuk pembukaan lahan sawit, terutama yang mengakibatkan pembabatan hutan di wilayah hulu sungai.

Muncul informasi bahwa kegiatan pembukaan hutan yang diduga dilakukan oleh perusahaan berinisial PT BSL, anak usaha PT BUM di Kecamatan Antang Kalang malah tengah gencar membuka lahan, padahal izin sudah dicabut.

“Lakukan evaluasi dan jika memang sudah terlanjur dicabut. Jangan ada lagi buka lahan untuk membabat hutan,” tegas Rimbun, Rabu 3 Desember 2025.

Ia menilai kondisi berbagai daerah di Indonesia yang dilanda banjir dan longsor, seperti Aceh dan sebagian wilayah Sumatera, harus menjadi peringatan keras bagi Kotim.

Karena itu, ia meminta setiap rencana pembukaan lahan harus dihentikan, terlebih di kawasan hulu yang menjadi penyangga utama daerah aliran sungai.

“Jangan ada lagi izin keluar untuk pembukaan lahan sawit yang membabat hutan. Apalagi di hulu sungai. Banjir dan longsor itu akibat jelas dari pembabatan hutan,” ujar dewan Dapil 5 ini.

Disaat bencana banjir dan longsor di Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera menelan ratusan korban jiwa dan membuat ribuan warga mengungsi, ironi justru terjadi di Kotim.

(Nardi)

baca juga ...  Jaksa Borong Dokumen Asli Dana Hibah KPU di BKAD Kotim, SP2D hingga Notulen Rapat Disita

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!