PALANGKA RAYA – Bencana banjir dan longsor parah yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera menjadi alarm keras bagi Kalimantan Tengah (Kalteng). Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalteng mendesak para pengusaha, khususnya di sektor perkebunan dan pertambangan, untuk segera mengintrospeksi diri dan memulihkan fungsi lahan demi mencegah bencana serupa terjadi di Bumi Tambun Bungai.
Menurut Wakil Ketua III DPRD Kalteng Junaidi, rentetan bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat adalah sinyal bahwa alam sedang “menghukum” akibat eksploitasi berlebihan.
“Bahwa mungkin akibat keserakahan sebagian kita semua, mungkin juga akibat keserakahan kita bersama, bahwa alam sudah menghukum kita,” kata Junaidi, belum lama ini.
Junaidi menekankan bahwa momentum bencana ini harus menjadi ajang refleksi kolektif. Ia secara spesifik meminta para pelaku usaha di Kalteng untuk mengubah paradigma bisnis mereka yang selama ini cenderung ekstraktif.
“Hari ini menjadi momentum kita untuk merefleksikan diri, mengintrospeksi seluruh pengusaha di wilayah Kalteng khususnya, bagaimana berusaha itu bukan hanya kita mengambil dan mengeruk saja,” ujarnya.
Politikus Partai Demokrat ini menekankan pentingnya tanggung jawab lingkungan yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Pengusaha, kata dia, wajib mengembalikan fungsi lahan pasca-eksploitasi.
“Namun juga bagaimana mengembalikan fungsi dan kondisi lahan yang ada, supaya minimal bisa mengurangi dampak sebagaimana yang terjadi di Sumatera dan Aceh,” tegas Junaidi.
Ia menambahkan, refleksi ini bukan hanya berlaku untuk wilayah yang terdampak langsung, tetapi untuk seluruh Indonesia, terutama Kalteng. Provinsi ini memiliki karakteristik geografis yang mirip dengan Sumatera, kaya akan kebun, tambang, dan hutan yang juga rentan terhadap kerusakan lingkungan jika eksploitasi terus berlangsung tanpa mitigasi yang memadai.
“Jadi memang ajang refleksi kita, bukan hanya untuk Sumatera dan Aceh, namun juga untuk seluruh Indonesia, terkhusus Kalteng yang notabene kebun, tambang, dan hutan sama kurang lebih dengan Sumatera Aceh habisnya,” tutup Junaidi.
(Syauqi)












