SAMPIT – Penyelewengan distribusi BBM subsidi diduga kembali terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Di tengah pengawasan energi yang seharusnya ketat, solar subsidi di salah satu SPBU mendadak dinyatakan habis, meski secara perhitungan kuota harian disebut belum sepenuhnya tersalurkan.
Indikasi kejanggalan terungkap dari keterangan seorang sopir truk berinisial IY yang sejak pagi mengantre bersama puluhan kendaraan lain.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius terkait alur distribusi solar subsidi serta pihak-pihak yang diduga menikmati keuntungan dari selisih tersebut.
Menurut IY, saat gilirannya tiba, petugas SPBU menyampaikan bahwa stok solar subsidi telah habis.
Ia antre dari pagi, tapi ketika tiba gilirannya tiba-tiba habis. Ini bukan hanya soal kekecewaan, tapi soal keadilan bagi para sopir yang memang berhak menggunakan solar subsidi.
“Namun jika melihat jumlah kendaraan yang telah mengisi sejak pagi, ini masih jauh dari batas maksimal kuota harian,” kata IY, Jumat 19 Desember 2025.
Ia memaparkan, sekitar 35 unit truk sebelumnya mengisi dengan jatah maksimal 80 liter per kendaraan atau totalnya sekitar 2.800 liter. Selain itu, terdapat sekitar 25 kendaraan lain yang mengisi dengan jatah 60 liter, sehingga total pemakaian diperkirakan hanya sekitar 4.300 liter. Sementara kuota harian solar subsidi di SPBU tersebut mencapai 8.000 liter.
Dengan hitungan tersebut, masih terdapat selisih sekitar 3.700 liter yang seharusnya dapat disalurkan kepada konsumen.
“Selisihnya terlalu besar untuk disebut wajar. Pihak SPBU berdalih bahwa sisa solar disimpan sebagai stok darurat,” kaya IY.
Namun alasan ini justru menambah tanda tanya lagi karena stok darurat seharusnya hanya ratusan liter untuk menjaga operasional, bukan ribuan liter dengan nilai ekonomi yang besar.
Keanehan berlanjut pada hari berikutnya. Penjualan solar subsidi kembali ditutup dengan alasan menunggu pasokan dari Pertamina. Penyaluran baru dibuka dua hari kemudian setelah SPBU menerima kiriman ulang sebanyak 8.000 liter.
Sopir lain berinisial WN turut membenarkan kejadian tersebut dan meminta agar persoalan ini ditelusuri secara menyeluruh. Ia mempertanyakan mengapa sisa solar subsidi yang diduga masih tersedia tidak disalurkan kepada pengguna yang berhak.
Kasus ini dinilai perlu mendapat perhatian serius dari instansi terkait agar distribusi BBM subsidi benar-benar tepat sasaran dan tidak merugikan masyarakat, khususnya para pelaku usaha kecil dan pengemudi yang sangat bergantung pada solar bersubsidi.
(Nardi)












