SAMPIT – Ancaman paham radikalisme mulai menyasar kalangan pelajar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melalui media game online (permainan daring). Indikasi tersebut disampaikan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kotim Rihel yang mengungkapkan adanya dua pelajar di daerah ini terdeteksi berpotensi terpapar paham radikal berdasarkan informasi dari pihak berwenang.
Rihel menilai, kondisi tersebut menjadi peringatan serius bagi semua pihak agar lebih waspada. Menurutnya, upaya pencegahan tidak bisa hanya dibebankan pada satu pihak, melainkan memerlukan keterlibatan bersama antara keluarga, sekolah, dan pemerintah daerah.
“Kalau orang tua, sekolah, dan pemerintah berjalan seiring, saya yakin upaya pencegahan bisa lebih efektif,” ujarnya Kamis 8 Januari 2026.
Ia menjelaskan, proses masuknya paham radikal ke kalangan pelajar kerap dilakukan secara tidak langsung dan sulit terdeteksi. Salah satu pola yang kini muncul adalah melalui game online yang mengandung unsur kekerasan, kemudian secara perlahan diarahkan ke kelompok tertentu hingga anak mulai mengalami perubahan perilaku.
“Biasanya anak menjadi lebih tertutup, menyendiri, dan enggan berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Ini sangat berbahaya jika tidak segera disadari,” kata Rihel.
Dalam konteks tersebut, Rihel menegaskan peran orang tua sangat krusial sebagai garda terdepan pengawasan anak. Ia mengingatkan agar orang tua lebih peka terhadap perubahan sikap dan kebiasaan anak, termasuk dalam penggunaan gawai yang tidak boleh dibiarkan tanpa kontrol.
“Kalau anak mulai sulit diatur, lebih banyak menyendiri, atau ada perubahan perilaku, orang tua harus segera waspada. Penggunaan handphone juga perlu diawasi, jangan dibiarkan bebas,” tegasnya.
Selain keluarga, peran sekolah juga dinilai tidak kalah penting. Rihel menyebut guru Bimbingan Konseling memiliki peran strategis dalam memantau perkembangan karakter dan perilaku siswa di lingkungan pendidikan.
Ke depan, Kesbangpol Kotim akan memperkuat program sosialisasi pencegahan radikalisme dengan menyasar sekolah-sekolah, mulai dari tingkat SD hingga SMA. Langkah ini dilakukan untuk membekali pelajar dengan pemahaman tentang bahaya radikalisme sejak dini.
“Usia yang paling rentan itu mulai 12 tahun hingga tingkat SMA. Karena itu, sosialisasi akan kami intensifkan ke sekolah-sekolah,” jelasnya.
Rihel menambahkan, di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, penguatan pembinaan karakter dan penanaman nilai-nilai kebangsaan menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Generasi muda perlu dibentengi agar tidak mudah terpengaruh oleh paham yang bertentangan dengan ideologi negara. (nardi)












