DP3APPKB Kalteng Tekankan Pola Asuh Keluarga Kunci Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak

IST/BERITASAMPIT - ilustrasi.

– Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan KB (DP3APPKB) Provinsi (Kalteng) menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat dicegah melalui penguatan pola asuh yang tepat dalam keluarga.

Kepala DP3APPKB Provinsi , Linae Victoria Aden, mengatakan keluarga merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter anak, sehingga kualitas pola asuh sangat menentukan perilaku seseorang di masa depan.

“Pola asuh itu dimulai dari keluarga. Kalau pola asuhnya salah, itu akan berpengaruh terhadap karakter seseorang, termasuk cara pandangnya terhadap relasi dan seksualitas,” ujarnya saat ditemui di Kantor DPRD Provinsi Kalteng, Senin, 5 Januari 2026.

Menurut Linae, data kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masih tinggi di menunjukkan pentingnya peran keluarga dalam mencegah terjadinya kekerasan sejak dini.

Ia menjelaskan, pembinaan karakter anak tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua, tetapi juga harus diperkuat oleh lingkungan pendidikan dan masyarakat.

“Pada saat anak masuk dunia pendidikan, pendidik juga memiliki peran dalam pembinaan karakter. Ini semua saling berkaitan,” katanya.

Linae menilai, keluarga yang tangguh dan berkualitas akan melahirkan anak-anak dengan karakter yang baik, sehingga potensi terjadinya kekerasan dapat ditekan.

“Keluarga yang kuat dan berkualitas akan menghasilkan generasi yang memiliki nilai dan karakter yang baik,” jelasnya.

Ia menambahkan, kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh pola asuh yang kurang tepat serta lemahnya pemahaman nilai-nilai moral dan sosial.

“Tidak bisa kita katakan hanya satu faktor. Pola asuh, lingkungan, dan pendidikan semuanya berpengaruh,” ujarnya.

Untuk itu, DP3APPKB Kalteng terus mendorong berbagai program dan sosialisasi kepada masyarakat terkait pola asuh yang positif dan ramah anak.

Selain itu, pihaknya juga menjalin kolaborasi dengan berbagai instansi, seperti kepolisian, dunia pendidikan, tokoh agama, serta OPD terkait dalam rangka memperkuat upaya pencegahan kekerasan.

“Kami bekerja sama dengan banyak pihak karena pencegahan kekerasan tidak bisa dilakukan sendiri,” tegas Linae.

Berdasarkan data DP3APPKB, sepanjang tahun 2025 tercatat 414 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di , dengan kekerasan seksual menjadi jenis yang paling dominan.

(Sya'ban)

baca juga ...  Sambut Ramadan, Pemprov Kalteng Gencarkan Pembinaan Spiritual ASN
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!