SAMPIT – Warga Perumahan Estate SDME, Dusun Serawak, Desa Selucing, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dikejutkan dengan penemuan seorang remaja laki-laki yang ditemukan meninggal dunia di dalam kamar rumahnya, Rabu sore 14 Januari 2025.
Korban diketahui berinisial ATR (17). Ia pertama kali ditemukan oleh ayah tirinya, Di (31), sekitar pukul 16.30 WIB, saat pulang dari tempat kerja. Saat itu, korban ditemukan dalam kondisi tergantung di kusen pintu kamar.
Saat petugas tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP), korban telah diturunkan oleh pihak keluarga dan dibaringkan di ruang tengah rumah di Estate ESDM Blok II. Polisi kemudian melakukan olah TKP serta mencatat keterangan sejumlah saksi.
“Petugas melakukan pemeriksaan awal dan mengevakuasi korban untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” tertulis dalam laporan kepolisian.
“Ayah tirinya melihat korban telah tergantung di kusen pintu kamarnya menggunakan tali nilon yang dilapisi kain baju hitam,” tertulis dalam laporan kepolisian.
Petugas Polsek Cempaga saat tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP) menemukan korban telah diturunkan dan dibaringkan di ruang tengah perumahan Estate ESDM blok II. Petugas menemukan sebuah bangku salon ukuran sedang diduga digunakan sebagai pijakan di lokasi kejadian.
“Petugas melakukan olah TKP dan mencatat identitas saksi-saksi. Korban kemudian dievakuasi untuk pemeriksaan lebih lanjut,” tertulis dalam laporan tersebut.
Menurut hasil pemeriksaan luar oleh petugas Puskesmas Pundu pada jenazah menunjukkan korban diduga karena gantung diri.
“Ditemukan memar di leher, lidah menjulur keluar dengan cairan putih, serta adanya cairan seni. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain di tubuh korban,” ujarnya.
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Polres Kotim, AKP Sugiharso saat dikonfirmasi membenarkan hal itu dan mengatakan bahwa korban meninggal murni karena gantung diri.
“Ya. Gantung diri,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi, Kamis 15 Januari 2025.
Sementara ibu korban, Is (39) mengatakan bahwa pihak keluarga menolak untuk dilakukan otopsi terhadap jenazah putranya dan keluarga menerima kejadian ini sebagai musibah yang harus diterima dengan lapang dada.
(Utomo)












