DALAM pandangan penulis, peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar penanda usia organisasi, melainkan momentum muhasabah untuk meneguhkan kembali arah khidmah NU di tengah perubahan zaman. Seratus tahun adalah perjalanan panjang yang dilalui dengan kesabaran, keilmuan, dan pengabdian dari pesantren-pesantren desa hingga peran kebangsaan yang lebih luas.
Nahdlatul Ulama berdiri pada tahun 1926, jauh sebelum Indonesia merdeka. Karena itu, ketika NU berbicara tentang mengawal Indonesia merdeka, maknanya bukan klaim politis, melainkan tanggung jawab historis dan moral. Mengawal berarti menjaga arah, memastikan kemerdekaan tetap berpijak pada keadilan, persatuan, dan nilai kemanusiaan yang beradab.
Dalam pandangan penulis, pengawalan itu tidak selalu hadir dalam pernyataan besar atau simbol-simbol formal. Ia justru tampak dalam kerja-kerja sunyi di akar rumput: menjaga kerukunan warga, merawat musyawarah desa, menghidupkan majelis ilmu, serta membangun keteladanan sosial. NU tumbuh dari desa, dan di desa pula nilai-nilainya paling nyata dirasakan.
Tagline resmi Satu Abad Nahdlatul Ulama, “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”, dalam pandangan penulis mencerminkan watak dasar NU yang membumikan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah dalam kehidupan sehari-hari. Merawat jagat bukan sekadar ungkapan simbolik, melainkan kesadaran bahwa kehidupan harus dijaga keseimbangannya antara ibadah dan sosial, antara manusia dan alam, antara tradisi dan perubahan.
Dalam tradisi NU, hablum minallah tidak dapat dipisahkan dari hablum minannas. Hubungan manusia dengan Allah SWT harus tercermin dalam akhlak terhadap sesama dan tanggung jawab menjaga alam sebagai amanah. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan desa, penjagaan sumber air, penguatan solidaritas sosial, serta pelestarian tradisi lokal merupakan bagian dari ibadah sosial yang bernilai luhur.
Sementara itu, membangun peradaban, dalam pandangan penulis, bukanlah soal kemegahan simbol atau kebesaran nama. Peradaban lahir dari kualitas manusia: berilmu, beradab, dan berakhlakul karimah. Pendidikan pesantren, penguatan ekonomi umat, serta gerakan sosial yang menyejukkan menjadi fondasi peradaban yang dibangun NU secara perlahan, konsisten, dan berkesinambungan.
Di desa–desa, peradaban itu tampak ketika petani dihargai jerih payahnya, perempuan berdaya dalam ekonomi keluarga, generasi muda tumbuh dengan adab dan tanggung jawab, serta masyarakat hidup dalam suasana saling menghormati. Dalam konteks ini, koperasi, BUMDes, ekonomi pesantren, dan usaha warga dapat dipahami sebagai ikhtiar menghadirkan keadilan dan kemaslahatan bersama.
Memasuki abad kedua, tantangan yang dihadapi NU tentu semakin kompleks. Perubahan teknologi, derasnya arus informasi, dan kecenderungan polarisasi sosial menuntut kebijaksanaan yang lebih dalam. Dalam pandangan penulis, NU memiliki peran penting untuk tetap menjadi peneduh menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas, antara keteguhan prinsip dan keluwesan sikap.
Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai representasi sikap organisasi, melainkan refleksi pribadi penulis sebagai bagian dari masyarakat yang mencintai NU. Namun dalam pandangan penulis, kekuatan terbesar NU justru terletak pada kemampuannya merawat kebersamaan, mengelola perbedaan dengan adab, serta menghadirkan Islam yang menenteramkan dalam kehidupan berbangsa.
Satu abad NU adalah warisan sejarah. Abad kedua adalah amanah yang harus dijaga bersama. Sebagaimana tagline resminya, “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”, kiranya menjadi pengingat bahwa khidmah NU tidak berhenti pada satu generasi, melainkan terus mengalir lintas zaman.
Dalam kerendahan hati, penulis menyampaikan selamat memasuki satu abad Nahdlatul Ulama. Semoga seluruh khidmah para kiai pendiri, ulama, santri, dan nahdliyin sepanjang sejarah khususnya para nahdliyin di pelosok desa yang setia menjaga tradisi menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya. Semoga Allah SWT meneguhkan langkah di abad kedua, menjaga keikhlasan dalam berkhidmah, serta menjadikan Nahdlatul Ulama tetap istiqamah dalam merawat jagat dan membangun peradaban.
Penulis : Selamat Purwanto (Pegiat Desa, Agrobis, Pemerhati Sosial dan Budaya)












