Lima Bus Disulap Jadi RS Keliling, Gubernur Kalteng Pastikan Diisi Dokter Spesialis

SYA'BAN/BERITASAMPIT - Gubernur , Agustiar Sabran, saat diwawancarai usai menghadiri Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-79 di Hotel Best Western, , Sabtu malam, 14 Februari 2026.

– Pemerintah Provinsi (Pemprov) (Kalteng) akan memanfaatkan lima unit bus bantuan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia (RI) sebagai rumah sakit keliling untuk memperluas layanan , khususnya di wilayah pedalaman.

Bus tersebut merupakan bantuan dari Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi (DBH-DR) tahun 2025 yang diberikan pemerintah pusat kepada .

Gubernur , Agustiar Sabran, mengatakan keberadaan rumah sakit keliling tersebut akan mendukung pelayanan rumah sakit provinsi sekaligus menjangkau masyarakat yang selama ini sulit mengakses fasilitas .

“Rumah sakit keliling untuk memback up rumah sakit provinsi,” ujar Agustiar usai menghadiri Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-79 di , Sabtu malam, 14 Februari 2026.

Ia memastikan bus tersebut akan dilengkapi tenaga medis, termasuk dokter spesialis, sehingga masyarakat di pedalaman dapat memperoleh layanan tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke rumah sakit.

“Supaya jemput bola ke pedalaman, di dalam bus nanti kita kirim dokter spesialis juga nanti supaya mempermudah masyarakat berobat,” katanya.

Agustiar menjelaskan bantuan tersebut berasal dari Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi tahun 2025 yang disalurkan melalui Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.

“Dari Menteri Kehutanan, dana DBH-DR tahun 2025,” ujarnya.

Sebelumnya, Agustiar Sabran telah bertemu Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, pada 4 Februari 2026. Dalam pertemuan tersebut, Gubernur memaparkan tantangan pembangunan di yang sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan hutan.

Ia menyebutkan sekitar 81 persen wilayah merupakan kawasan hutan, sedangkan hanya sekitar 19 persen berstatus Area Penggunaan Lain (APL).

“Dengan kondisi sekarang, tata ruang Provinsi Kalteng kurang lebih 81 persen adalah kawasan hutan, maka sisanya yang 19 persen APL adalah zona penyangga,” ungkapnya.

Menurut Agustiar, keterbatasan ruang pembangunan tersebut membuat dukungan pemerintah pusat, termasuk melalui pemanfaatan Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi, menjadi penting untuk memperkuat infrastruktur pelayanan publik, termasuk sektor .

Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan dukungannya terhadap pemanfaatan dana tersebut untuk pembangunan infrastruktur yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, sekaligus tetap menjaga kelestarian kawasan hutan.

(Sya'ban)

baca juga ...  Nasib CPNS 2026 Bergantung Daerah, Kepala BKN: Kalau Nggak Ada yang Usul Formasi, Kami Mau Tes Siapa?
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!