DKUKMPP Kotim Sidak SPBE Pelangsian, Temukan Kendala Distribusi Elpiji

NARDI/BERITASAMPIT - Kepala Dinas Koperasi UKM Perindustrian Perdagangan Kotim Johny Tangkere sidak ke SPBE pelangsian.

SAMPIT – Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten (Kotim) melakukan inspeksi mendadak ke Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Pelangsian menyusul keluhan kelangkaan elpiji 3 kilogram di sejumlah wilayah Sampit, Senin 23 Februari 2026.

Dari hasil sidak, yang menjadi kendala adalah sempat rusaknya kompresor sehingga semua nozel tidak berfungsi. Namun sekarang kompresor sudah diperbaiki namun ada satu nozel yang rusak dan dua nozel yang masih terpasang garis polisi setelah sebelumnnya sidak dari Polda Kalteng tidak bisa digunakan. 

“Total ada 12 nozel, tapi yang bisa beroperasi saat ini hanya sembilan. Dua masih dipasang police line dan satu rusak masih menunggu spare part,” ungkap Kepala Dinas KUKMPP Kotim Johny Tangkere.

Sebagai solusi sementara, agen mengambil pasokan dari Pangkalan Bun, Kabupaten , sehingga distribusi juga melambat.

Akibat berkurangnya kapasitas pengisian, antrean kendaraan pengangkut tabung terjadi hingga sore bahkan malam hari. Kondisi itu menyebabkan keterlambatan distribusi ke agen dan pangkalan, sehingga di beberapa titik muncul kesan kelangkaan.

Namun demikian, dinas menegaskan tidak terjadi kelangkaan secara menyeluruh di Kotim. “Kalau disebut langka berarti barangnya tidak ada. Ini barangnya ada, hanya ada keterlambatan karena kendala teknis. Jadi bukan unsur kesengajaan,” tegasnya.

Dinas memastikan mulai hari ini distribusi kembali berangsur normal dengan sembilan nozel yang sudah beroperasi. Kerusakan nozel tersebut juga telah dilaporkan ke Pertamina.

Terkait harga yang dilaporkan mencapai Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per tabung di tingkat pengecer, dinas menegaskan hal tersebut sudah melampaui batas dan memberatkan masyarakat. 

Harga eceran tertinggi di tingkat agen sekitar Rp22 ribu namun juga tergantung lokasinya, sementara ditingkat pangkalan juga diingatkan jangan menaikkan harga terlalu tinggi yang memberatkan masyarakat.

baca juga ...  Pemkab Kotim Tegaskan Komitmen Wujudkan Pemerintahan Antikorupsi

“Kalau sampai Rp40 ribu itu sudah kelewatan dan kasihan masyarakat. Kalau ada yang menjual di atas HET, silakan laporkan ke dinas. Nanti akan kami tindak melalui tim pengawasan,” ujarnya.

Ia mengakui pengawasan harga di lapangan tidak mudah karena jumlah pengecer cukup banyak. Karena itu, partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan dengan cara melaporkan apabila menemukan penjualan di atas ketentuan.

“Kami pastikan mulai hari ini distribusi sudah normal kembali. Kalau ada yang masih menjual mahal, segera laporkan. Kami akan ambil langkah sesuai aturan,” tegasnya. 

Sebelumnya diberitakan, selama bulan suci Ramadan, warga di Kecamatan Baamang dan MB Ketapang, Kota Sampit, Kabupaten mengaku kesulitan mendapatkan elpiji 3 kilogram bersubsidi.

Sejumlah warga menyebut harus berkeliling ke beberapa pangkalan dan warung eceran untuk mencari tabung gas melon tersebut. Tidak sedikit yang pulang dengan tangan kosong karena stok cepat habis.

“Sudah keliling ke tiga tempat, semuanya bilang habis. Biasanya tidak sesulit ini,” ujar Rina, warga Baamang.

Kelangkaan disebut mulai terasa sejak awal Ramadan, saat kebutuhan untuk sahur dan berbuka meningkat. Kalaupun tersedia, harga di tingkat pengecer dilaporkan naik hingga Rp35 ribu sampai Rp40 ribu per tabung.

Akibatnya, sebagian warga terpaksa menunda aktivitas memasak bahkan beralih menggunakan kayu bakar sebagai alternatif sementara.

Masyarakat berharap pemerintah dan aparat terkait segera memastikan distribusi berjalan lancar serta memperketat pengawasan agar tidak terjadi penimbunan dan permainan harga, mengingat elpiji 3 kilogram merupakan barang subsidi bagi warga kurang mampu. (nardi)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!