PALANGKA RAYA – Delapan unit bus medis keliling yang dialokasikan untuk Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) melalui Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi (DBH-DR) sektor kehutanan tahun 2026 hingga kini belum tiba di daerah.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng memperkirakan unit tersebut baru akan direalisasikan paling lambat akhir tahun 2026.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng, Agustan Saining, mengatakan saat ini proses pengadaan bus masih berlangsung di tingkat pemerintah pusat, sehingga unitnya belum tersedia di Kalteng.
“Realisasinya 2026 ini, unitnya belum di Kalteng, tahun ini sedang diproses, mungkin di pertengahan tahun, paling lambat akhir tahun,” ujar Agustan saat ditemui di Kompleks Istana Isen Mulang, Palangka Raya, Senin malam, 23 Februari 2026.
Ia menjelaskan, delapan unit bus tersebut merupakan bantuan yang bersumber dari DBH Dana Reboisasi sektor kehutanan tahun anggaran 2026. Bus tersebut dirancang khusus sebagai fasilitas pelayanan kesehatan bergerak yang dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat kecamatan.
“Delapan bus semacam ambulans bisa jadi rumah sakit keliling,” katanya.
Menurut Agustan, bus tersebut dilengkapi fasilitas medis khusus yang memungkinkan tenaga kesehatan, termasuk dokter spesialis, memberikan layanan langsung di lapangan.
“Dia khusus, dia spesial edition, nanti di dalamnya bisa operasi gigi dan lainnya, jadi dokter spesialis bisa praktik di situ,” jelasnya.
Ia menambahkan, mengingat kondisi geografis Kalimantan Tengah yang luas dan sebagian wilayahnya sulit dijangkau, bus medis tersebut diharapkan dapat menjangkau wilayah yang masih memiliki akses darat.
“Yang terjangkau saja, minimal di kecamatan-kecamatan kan terjangkau,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, sebelumnya menyampaikan bahwa bus medis keliling tersebut akan digunakan untuk memperkuat pelayanan kesehatan, khususnya dalam mendukung operasional rumah sakit provinsi dan menjangkau masyarakat di wilayah pedalaman.
“Rumah sakit keliling untuk memback up rumah sakit provinsi,” ujar Agustiar.
Ia mengatakan, keberadaan bus tersebut akan memungkinkan tenaga medis, termasuk dokter spesialis, memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada masyarakat tanpa harus menunggu pasien datang ke rumah sakit.
“Supaya jemput bola ke pedalaman, di dalam bus nanti kita kirim dokter spesialis juga nanti supaya mempermudah masyarakat berobat,” katanya.
Program bus medis keliling tersebut menjadi bagian dari pemanfaatan DBH Dana Reboisasi yang diterima Kalteng pada tahun 2026.
Selain bantuan fasilitas, provinsi ini juga dipastikan memperoleh alokasi DBH-DR dengan nilai lebih dari Rp400 miliar, yang akan digunakan untuk mendukung berbagai program pembangunan dan pelayanan publik.
(Sya'ban)












