Sanitasi dan Ekonomi Keluarga: Infrastruktur Dasar yang Sering Terlupakan

IST/BERITASAMPIT -Wahyu Akbar, S.E.Sy., M.E.

Oleh: Wahyu Akbar, S.E.Sy., M.E. (Dosen muda di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN , dan juga menjabat sebagai Wakil Dekan III)

DI banyak daerah di Indonesia, masalah sanitasi masih menjadi bagian dari realitas sehari-hari. Tidak semua rumah tangga memiliki jamban yang layak atau sistem pengelolaan limbah yang aman. Di sebagian wilayah pedesaan, masyarakat masih menghadapi keterbatasan fasilitas sanitasi yang memadai. Masalah ini sering dipandang sebagai persoalan masyarakat. Padahal, jika dilihat dari perspektif ekonomi pembangunan, sanitasi juga berkaitan erat dengan kesejahteraan rumah tangga.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sekitar 83 persen rumah tangga di Indonesia telah memiliki akses sanitasi layak pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan kemajuan yang cukup besar dibandingkan satu dekade lalu. Namun di sisi lain, masih terdapat sekitar 16 persen rumah tangga yang belum memiliki fasilitas sanitasi memadai. Angka tersebut mungkin terlihat kecil secara statistik, tetapi jika diterjemahkan ke dalam jumlah penduduk, jutaan keluarga di Indonesia masih hidup tanpa sanitasi yang layak.

Lebih dari Sekadar Masalah

Sanitasi sering dikaitkan dengan penyakit berbasis lingkungan seperti diare, infeksi saluran pencernaan, atau penyakit yang ditularkan melalui air. Kondisi sanitasi yang buruk memang meningkatkan risiko berbagai penyakit tersebut. Namun dampak sanitasi sebenarnya tidak berhenti pada . Sanitasi juga memiliki konsekuensi ekonomi yang signifikan bagi rumah tangga.

Ketika anggota keluarga sering sakit, rumah tangga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengobatan. Selain itu, sakit juga berarti kehilangan waktu kerja dan menurunkan produktivitas. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperburuk stabilitas ekonomi keluarga. Laporan Bank Dunia pernah memperkirakan bahwa kerugian ekonomi akibat sanitasi yang buruk di Indonesia mencapai lebih dari dua persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menunjukkan bahwa sanitasi bukan hanya masalah , tetapi juga masalah ekonomi .

Sanitasi dan Ketahanan Ekonomi Rumah Tangga

Dari sudut pandang ekonomi rumah tangga, sanitasi dapat memengaruhi kesejahteraan keluarga melalui beberapa jalur.

Pertama, sanitasi yang baik dapat menurunkan risiko penyakit. Dengan lingkungan yang lebih sehat, keluarga tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar. Kedua, yang lebih baik meningkatkan produktivitas kerja. Anggota keluarga yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk bekerja secara optimal dan mempertahankan pendapatan. Ketiga, sanitasi yang memadai juga berkaitan dengan efisiensi waktu rumah tangga. Di beberapa wilayah dengan fasilitas sanitasi terbatas, masyarakat harus menghabiskan waktu lebih lama untuk mengakses fasilitas sanitasi atau mengatasi kondisi lingkungan yang kurang sehat.

Waktu yang hilang ini sebenarnya memiliki nilai ekonomi. Jika waktu tersebut dapat digunakan untuk bekerja atau menjalankan usaha, dampaknya bisa berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan keluarga. Sanitasi tidak hanya berkaitan dengan , tetapi juga dengan ketahanan ekonomi rumah tangga.

Tantangan Menuju Target Global

Persoalan sanitasi juga berkaitan dengan komitmen global dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Salah satu target utama SDGs adalah memastikan akses universal terhadap air bersih dan sanitasi yang aman bagi seluruh masyarakat. Indonesia telah menunjukkan kemajuan dalam mencapai target ini. Namun tantangan masih besar, terutama dalam mengurangi kesenjangan akses antara wilayah perkotaan dan pedesaan serta antara kelompok ekonomi atas dan bawah. Jika pembangunan sanitasi tidak dipercepat, kesenjangan ini dapat memperlebar ketimpangan kesejahteraan antar kelompok masyarakat.

Mengubah Cara Pandang Pembangunan

Selama ini sanitasi sering dipandang sebagai proyek infrastruktur atau program masyarakat. Padahal, sanitasi juga memiliki dimensi ekonomi yang penting. Investasi pada sanitasi sebenarnya dapat memberikan manfaat ekonomi yang besar. Dengan lingkungan yang lebih sehat, rumah tangga dapat mengurangi biaya , meningkatkan produktivitas, serta menjaga stabilitas ekonomi keluarga.

Karenanya, pembangunan sanitasi seharusnya tidak hanya diposisikan sebagai program , tetapi juga sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi yang inklusif. Memperluas akses sanitasi yang layak berarti tidak hanya meningkatkan kualitas lingkungan, tetapi juga memperkuat fondasi kesejahteraan masyarakat.

Pada akhirnya, kualitas pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya proyek infrastruktur atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi. Pembangunan yang sesungguhnya adalah ketika setiap keluarga dapat hidup dalam lingkungan yang sehat, aman, dan bermartabat. Konteks tersebut, sanitasi bukan sekadar fasilitas dasar. Sanitasi adalah investasi bagi masa depan kesejahteraan masyarakat. (***)

baca juga ...  Pemkot Palangka Raya Hadirkan LPEI dan IBS, Berikan Pendampingan-Pembiayaan IKM Lokal
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!